PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sentra pengrajin anyaman pandan di Desa Kadulimus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten, mulai kesulitan mendapatkan bahan baku.
Para pengrajin pun berharap pemerintah menyediakan bibit pandan untuk menjamin keberlangsungan produksi.
Pengrajin anyaman pandan, Hadi, mengatakan ketersediaan daun pandan semakin menipis dari tahun ke tahun. Ia mengusulkan agar pemerintah menyiapkan lahan khusus sekaligus bibit pandan yang dapat ditanam oleh masyarakat.
“Ke sini bahan baku semakin berkurang. Kami mengusulkan kalau ada lahan milik pemerintah, khususnya di Desa Bandung dan Desa Kadulimus, bisa ditanami pandan. Bibitnya ditanam oleh masyarakat, nanti saat panen hasilnya bisa dimanfaatkan pengrajin secara gratis, tidak harus beli,” kata Hadi, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, berkurangnya bahan baku dipicu oleh alih fungsi lahan serta pembangunan yang semakin masif. Jika tidak segera diantisipasi, pandan sebagai bahan utama anyaman dikhawatirkan akan semakin langka.
“Setiap tahun bahan baku pasti habis dimakan waktu, ditambah lahan banyak berubah jadi bangunan dan tanaman lain. Harapan kami pandan ini bisa dipertahankan,” ujarnya.
Menurut Hadi, kerajinan anyaman pandan merupakan warisan budaya berbasis alam yang perlu dijaga keberlanjutannya. Karena itu, dukungan pemerintah dalam penyediaan bahan baku dinilai sangat penting, terutama untuk kebutuhan jangka panjang.
“Pengrajin anyaman pandan harus didukung, terutama soal ketersediaan bahan baku agar aman untuk jangka panjang,” katanya.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan produksi, Hadi mengaku mengambil daun pandan dari wilayah Kecamatan Banjar hingga daerah sekitar seperti Kecamatan Mekarjaya dan Kabupaten Lebak.
“Kalau permintaan sedang banyak, kami dituntut untuk mencukupi. Itu sebabnya bahan baku juga diambil dari luar daerah,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah daerah hingga pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap keberlangsungan kerajinan anyaman pandan.
“Ini menyangkut pelestarian budaya yang bisa menjadi kebanggaan, tidak hanya untuk Banten tapi juga nasional. Kendala utamanya tetap di bahan baku,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











