PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pandeglang belakangan ini menuai keluhan dari para penerima manfaat. Sejumlah orang tua dan siswa mengeluhkan menu yang dibagikan dinilai tidak sesuai dan kurang layak konsumsi, terutama selama bulan suci Ramadan.
Perlu diketahui, keluhan yang ramai di media sosial itu beragam. Mulai dari temuan menu yang diduga berisi ulat, ketidaksesuaian isi menu dengan ketentuan, hingga kualitas makanan yang dinilai tidak memenuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Menanggapi hal itu, Dandim 0601/Pandeglang, Letkol Inf Afri Swandi Ritonga angkat bicara. Ia menyebut, keluhan yang ramai di media sosial menjadi perhatian serius pihaknya bersama Satuan Tugas (Satgas) Percepatan MBG.
“Saya bersama Ketua Satgas Percepatan MBG, Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi, dan Wakil Ketua Satgas MBG Asda I Doni Hermawan, apabila ada kejadian seperti itu akan melaksanakan mediasi dengan SPPG. Harapannya bisa menegur mereka agar ke depan membuat menu sesuai standar,” kata Afri, Selasa 3 Maret 2026.
Afri menjelaskan, pihaknya telah melakukan empat kali evaluasi bersama mitra dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait berbagai aduan masyarakat.
“Evaluasi dilakukan dari segi hukum, kelengkapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), hingga persoalan menu. Semuanya sudah kami evaluasi,” ujarnya.
Menurutnya, dalam pelaksanaan program MBG, Kodim 0601/Pandeglang terus berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) di Kabupaten Pandeglang agar program pemerintah tersebut berjalan sesuai ketentuan.
Ia juga menekankan kepada seluruh dapur SPPG di Kabupaten Pandeglang agar bekerja secara profesional dan mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh BGN.
“Harapan saya kepada para mitra dan dapur SPPG yang melayani, bekerjalah dengan hati, ikhlas, dan sesuaikan dengan standar yang sudah ditentukan oleh BGN,” tegasnya.
Afri menambahkan, program MBG sejatinya memiliki tujuan mulia untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Selain itu, program tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi masyarakat.
“Ke depan kita harapkan dampak positifnya terasa. Dalam 10 tahun sudah tidak ada stunting. Satu SPPG saja bisa menyerap 47 tenaga kerja, belum lagi UMKM yang ikut bergerak. Ini harus terus berlanjut agar kesejahteraan masyarakat meningkat,” pungkasnya.
Editor: Bayu Mulyana











