PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Muara Sungai Cipunten Agung menjadi titik baru penumpukan sampah limbah rumah tangga dan batang bambu di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Limbah sampah rumah tangga dan batang bambu tersebut berasal dari hulu Sungai Cipunten Agung.
Nelayan mengeluhkan keberadaan tumpukan sampah di Muara Sungai Cipunten Agung karena perahu mereka kesulitan saat akan melaut maupun bersandar.
Sungai Cipunten Agung saat ini menjadi tempat perahu atau kapal nelayan untuk bersandar dan melakukan bongkar muat ikan.
Muara Sungai Cipunten Agung menjadi tumpuan para nelayan Labuan karena memang tidak memiliki dermaga yang layak untuk bersandar. Adapun dermaga yang berada di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, saat ini kondisinya sudah rusak berat. Sebagai penggantinya, seluruh kapal nelayan memanfaatkan aliran Sungai Cipunten Agung.
Namun saat ini kondisi aliran sungai dipenuhi sampah limbah rumah tangga dan batang bambu sehingga nelayan mengeluhkan kondisi tersebut.
Saking banyaknya sampah, nelayan akhirnya secara swadaya membersihkan sampah yang menutupi aliran Sungai Cipunten Agung.
Nelayan Desa Teluk, Awin mengatakan, aliran sungai saat ini dipenuhi sampah.
“Sampahnya bukan hanya limbah rumah tangga, tapi juga batang bambu yang terbawa dari hulu sungai, dari pegunungan,” katanya, Jumat 6 Maret 2026.
Adanya sampah tersebut menghalangi jalur perahu nelayan serta berpotensi merusak baling-baling mesin perahu.
“Kondisi ini meresahkan karena mengganggu aktivitas melaut, memaksa perahu antre, atau bahkan tidak bisa beroperasi karena terhalang sampah. Maka dari itu, kita lakukan pembersihan,” katanya.
Pembersihan dilakukan menggunakan peralatan seadanya. Sampah yang paling sulit dibersihkan adalah batang bambu.
“Karena batang bambunya cukup panjang-panjang. Ditambah ada limbah kayu juga,” katanya.
Awin berharap pemerintah turun tangan melakukan upaya pembersihan karena kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas nelayan.
“Harusnya bisa berangkat melaut, tapi menjadi tertunda karena harus menyingkirkan sampah yang menghalangi perahu,” katanya.*
Editor : Krisna Widi Aria











