SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kagungan, Kota Serang, mengakui terdapat menu MBG berupa roti yang tidak layak konsumsi hingga berjamur di SDN 20 Kota Serang.
Pihaknya menyebut terdapat kekurangan dalam proses pengecekan makanan sebelum didistribusikan.
Meski demikian, pihaknya mengklaim roti yang bermasalah telah diganti setelah adanya laporan dari pihak sekolah.
Kepala SPPG Kagungan, Fauzan Rizki, menjelaskan roti dalam menu MBG tersebut dikirim secara bertahap oleh produsen karena masih dalam proses produksi pada malam hingga dini hari sebelum distribusi.
Ia mengatakan, pengiriman pertama roti dilakukan pada Rabu 4 Maret 2026 sekitar pukul 21.00 WIB dengan jumlah sekitar 1.100 roti.
Setelah roti tiba di dapur SPPG, petugas langsung melakukan penyortiran untuk memastikan kondisi makanan yang akan dibagikan kepada siswa.
“Pengiriman pertama sekitar pukul 21.00 malam sebanyak kurang lebih 1.100 roti dan langsung kami lakukan penyortiran,” ujarnya, Jumat 6 Maret 2026.
Selanjutnya, pengiriman kedua datang sekitar pukul 02.00 WIB dengan jumlah sekitar 900 roti. Sementara pengiriman terakhir tiba sekitar pukul 05.30 WIB.
Namun, pada pengiriman terakhir tersebut pihak SPPG Kagungan tidak sempat melakukan pengecekan secara menyeluruh karena harus segera mempersiapkan proses distribusi makanan ke sejumlah sekolah penerima program MBG di Kota Serang.
Fauzan menjelaskan, distribusi makanan harus dilakukan lebih cepat karena sebagian besar penerima manfaat merupakan siswa sekolah dasar yang memiliki jam pulang lebih awal dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
“Karena mengejar waktu distribusi, roti pada pengiriman terakhir tidak sempat dicek secara menyeluruh. Sementara siswa banyak yang pulang sekitar pukul 09.00 sampai 10.00,” katanya.
Setelah makanan didistribusikan, pihak SPPG Kagungan menerima laporan dari salah satu sekolah mengenai adanya roti yang berjamur dalam menu MBG yang dibagikan kepada siswa.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak SPPG langsung melakukan penggantian roti yang bermasalah agar siswa tetap mendapatkan makanan yang layak dikonsumsi.
“Begitu ada komplain dari sekolah, kami langsung mengganti roti yang bermasalah. Pada prinsipnya kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujarnya.
Ia mengatakan, persoalan tersebut sebenarnya sudah diselesaikan antara pihak SPPG Kagungan dan sekolah penerima program MBG. Namun, informasi mengenai roti berjamur kemudian menyebar luas di masyarakat.
Informasi tersebut diduga menjadi viral setelah salah satu wali murid membagikan foto roti yang berjamur ke dalam grup WhatsApp.
Setelah kejadian tersebut, pihak SPPG Kagungan juga memanggil produsen roti untuk melakukan evaluasi bersama terkait kualitas makanan yang dipasok untuk program MBG.
Menurut Fauzan, saat itu produsen sedang menerima banyak pesanan dari beberapa dapur penyedia MBG sehingga proses produksi berlangsung cukup padat.
“Dari pihak produsen mengakui ada kesalahan karena saat itu mereka sedang menerima banyak pesanan, sehingga ada bahan baku yang tidak tercek dengan baik,” jelasnya.
Ia menegaskan kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi pihak SPPG Kagungan maupun produsen makanan agar kualitas makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis tetap terjaga.
“Ke depan kami akan lebih teliti dalam melakukan quality control pada setiap pengiriman supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.*
Editor : Krisna Widi Aria











