SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Banten pada Januari 2026 menunjukkan dinamika yang cukup signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten melalui Berita Resmi Statistik No.16/03/36/Th. XX, 2 Maret 2026, nilai ekspor Banten pada Januari 2026 tercatat sebesar US$977,31 juta, mengalami penurunan 8,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1.070,52 juta.
Dari total ekspor tersebut, ekspor nonmigas masih mendominasi dengan nilai US$956,86 juta atau 97,91 persen dari total ekspor.
Sementara, ekspor migas tercatat US$20,45 juta atau hanya 2,09 persen.
Penurunan ekspor secara tahunan terutama disebabkan oleh turunnya nilai ekspor nonmigas yang mengalami kontraksi 10,46 persen dibandingkan pada Januari 2025.
Dari sisi komoditas, kinerja ekspor nonmigas menunjukkan variasi yang cukup kontras.
Komoditas besi dan baja (HS 72) mencatat kenaikan nilai ekspor tertinggi, meningkat US$15,61 juta atau 32,18 persen dibandingkan Januari 2025.
Selain itu, tembaga (HS 74) juga meningkat US$10,34 juta (16,17 persen), disusul bahan kimia organik (HS 29) naik US$8,27 juta (12,03 persen).
Sebaliknya, komoditas kakao/cokelat (HS 18) mengalami penurunan terdalam sebesar US$33,03 juta atau 31,06 persen, diikuti karet dan barang dari karet (HS 40) yang turun US$9,72 juta (17,48 persen).
Secara keseluruhan, sepuluh komoditas utama menyumbang 66,84 persen terhadap total ekspor nonmigas Banten pada Januari 2026.
Menurut negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor terbesar Banten dengan nilai US$125,12 juta atau 13,08 persen dari total ekspor nonmigas. Disusul Tiongkok sebesar US$118,12 juta (12,34 persen) dan India US$85,91 juta (8,98 persen).
Ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$250,30 juta atau 26,16 persen. Sedangkan, ekspor ke Uni Eropa tercatat US$108,62 juta atau 11,35 persen.
Ditinjau dari sektor, ekspor nonmigas Banten masih didominasi oleh industri pengolahan dengan nilai US$929,70 juta atau 95,13 persen dari total ekspor. Namun, sektor ini mengalami penurunan 10,50 persen dibanding Januari 2025.
Sementara, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,27 persen, dan sektor pertambangan serta lainnya justru meningkat signifikan sebesar 48,04 persen.
Editor: Agus Priwandono











