SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Produksi gipang di Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang meningkat selama bulan Ramadan.
Permintaan camilan tradisional khas Banten tersebut mulai naik menjelang Hari Raya Idulfitri.
Pemilik usaha Gipang Cahaya Nawaf, Sam’ani, mengatakan peningkatan pesanan biasanya mulai terasa ketika memasuki pertengahan Ramadan. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa di luar bulan puasa.
“Kalau menjelang Lebaran memang berbeda dengan hari biasa. Biasanya mulai ramai sekitar 15 hari puasa,” kata Sam’ani, Minggu 7 Maret 2026.
Menurutnya, saat permintaan meningkat, produksi gipang dapat mencapai sekitar setengah kuintal atau sekitar 50 kilogram per hari. Sementara pada hari normal, produksi hanya berkisar sekitar 25 kilogram per hari.
Meski sejumlah bahan baku mengalami kenaikan harga, Sam’ani mengaku tetap mempertahankan harga jual gipang. Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, ia melakukan penyesuaian pada ukuran produk.
Saat ini gipang dijual dengan harga Rp20.000 per toples. Harga tersebut, kata Sam’ani, sudah diberlakukan cukup lama meskipun harga bahan baku mengalami kenaikan.
“Sekarang satu toples Rp20.000, itu sudah lama. Walaupun bahan-bahan naik, harga tetap,” ujarnya.
Produk gipang dari usaha Cahaya Nawaf dipasarkan ke beberapa daerah, seperti Jakarta, Cilegon, dan kawasan wisata Anyer. Dari sejumlah daerah tersebut, permintaan terbanyak datang dari wilayah Cilegon.
Jumlah pengiriman biasanya menyesuaikan dengan pesanan pelanggan. Dalam kondisi ramai menjelang Lebaran, pesanan bisa mencapai sekitar 50 lusin dalam sekali pengiriman. Sementara ketika permintaan menurun, pesanan berkisar sekitar lima lusin.
Dari sisi ketahanan produk, gipang dapat bertahan hingga tiga sampai empat bulan jika disimpan di tempat yang sejuk. Penyimpanan di dalam kulkas juga dinilai aman untuk menjaga kualitas makanan tersebut.
Sam’ani mengungkapkan usaha produksi gipang yang dijalankannya telah berlangsung sekitar tiga tahun. Ramadan menjadi periode dengan permintaan paling tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Di bagian produksi, proses pemotongan gipang dilakukan setelah adonan yang telah dicetak mengeras.
Potongan-potongan tersebut kemudian disusun sebelum dimasukkan ke dalam toples untuk dipasarkan.
Salah satu pekerja bagian produksi, Anis Fu’ad, menyebutkan dalam sehari mereka mampu menghasilkan sekitar 25 papan gipang.
“Sehari biasanya bisa sekitar 25 papan,” kata Anis Fu’ad saat ditemui di lokasi produksi.
Ia menjelaskan seluruh tahapan pembuatan gipang dilakukan secara bertahap, mulai dari memasak bahan, mencetak adonan, hingga proses pemotongan sebelum akhirnya dikemas.
Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar dua hari hingga gipang siap dipasarkan.
Editor Daru











