SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Hujan deras yang melanda wilayah Kabupaten Serang mengakibatkan banjir di sejumlah kecamatan, salah satunya di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang.
Banjir diduga diakibatkan oleh masifnya eksploitasi tambang di wilayah tersebut, akibat tingginya permintaan beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat semakin sedikitnya daerah resapan air sehingga mengakibatkan banjir.
Diketahui, banjir melenda sebanyak lima desa di Kecamatan Bojonegara dan memberikan dampak terparah selama beberapa tahun terakhir.
Salah seorang warga Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Fatullah, mengatakan selain diakibatkan oleh hujan deras, parahnya dampak banjir diduga diakibatkan oleh eksploitasi alam berlebih oleh perusahaan pertambangan.
“Penyebabnya karena lingkungan yang rusak, selain hujan deras yang terjadi. Lalu kondisi saluran pembuangan yang mengalami sedimentasi mengakibatkan air meluap ke pemukiman,” katanya, Minggu 8 Maret 2026.
Ia mengungkapkan, dampak banjir yang terjadi saat ini disebut paling parah dan merata. Biasanya banjir hanya merendam di titik-titik tertentu seperti di Desa Margagiri. Namun saat ini, ada banyak wilayah yang terdampak, termasuk wilayah-wilayah yang ada di dataran tinggi Bojonegara.
“Banjir semakin meluas akibat eksploitasi tambang semenjak adanya penutupan tambang oleh KDM. Ini dampaknya sangat luar biasa akibat galian C,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, akibat besarnya dampak banjir yang terjadi di Bojonegara, sempat membuat arus lalulintas di wilayah tersebut lumpuh total. Hal ini karena banyaknya titik banjir sekaligus dalamnya air.
“Semalam macet total, karena banyak titik banjirnya. Untuk saat ini sudah mulai bisa melintas,” ujarnya.
Masyarakat pun meminta agar operasional tambang di Bojonegara bisa dihentikan sementara agar mengantisipasi dampak yang lebih besar akibat hujan deras yang masih sering terjadi. Selama dihentikan, ia meminta pihak terkait melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh perusahaan tambang di wilayah tersebut.
“Stop sementara galian C karena penyebab utama banjir adalah pertambangan. Kita juga meminta agar dilakukan audit secara menyeluruh terhadap aktifitas tambang, karena tanpa audit sulit apakah perusahaan telah melakukan aktifitas yang ramah lingkungan atau tidak,” ujarnya.
Ia juga meminta agar segera dilakukan normalisasi terhadap drainase dan sungai-sungai yang menjadi lajur air. Sehingga ketika hujan deras turun, mampu menampung volume air yang datang.
“Kami juga meminta agar dibuatkan drainase di sepanjang jalan raya Bojonegara-Puloampel sehingga air bisa mengalir dengan baik. Saya yakin kalau ini tidak dilakukan, ke depan bisa lebih parah,” tegasnya.
Bencana alam yang terjadi di Bojonegara, lanjut Fatullah telah membuktikan jika kegiatan eksploitasi tambang yang terjadi sudah sangat dahsyat serta memberikan dampak buruk untuk masyarakat.
Editor Daru











