TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Lebih dari sekadar bagi-bagi uang, tradisi persenan saat Lebaran adalah potret akulturasi. Di mana, mengutip dari berbagai sumber, budaya memberikan uang saku saat Lebaran atau “persenan” di Indonesia merupakan hasil perkawinan sejarah yang panjang.
Secara teologis, akar tradisi ini dapat ditarik hingga masa Kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara pada abad ke-10, yang kemudian diperkuat oleh Kesultanan Turki Utsmani.
Kala itu, penguasa membagikan koin emas, pakaian, hingga manisan kepada rakyatnya sebagai bentuk syukur atas selesainya ibadah puasa.
Di Indonesia, tradisi ini mengalami kristalisasi budaya yang unik. Para sosiolog mencatat adanya pengaruh kuat dari tradisi angpao masyarakat Tionghoa.
Proses akulturasi ini mengubah amplop merah menjadi amplop-amplop kecil bermotif ketupat atau karakter kartun yang kini lazim kita temui.
Uang persenan Lebaran biasanya diberikan dengan cara menyelipkan uang ke telapak tangan saat bersilaturahmi untuk bermaaf-maafan.
Satu hal yang tak terpisahkan dari tradisi ini adalah keharusan menggunakan uang kertas dalam kondisi baru.
Secara filosofis, Lebaran adalah momen kembali ke fitrah atau suci. Penggunaan uang yang bersih, kaku, dan belum lecek dimaknai sebagai lembaran hidup yang baru setelah sebulan penuh menempa diri.
Memberikan uang baru dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada penerima, sekaligus representasi dari rezeki yang “segar” dan berkah.
Hal inilah yang memicu fenomena ekonomi musiman, yakni menjamurnya jasa penukaran uang baru. Mulai dari perbankan resmi hingga pelapak uang di trotoar jalan yang menawarkan pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000.*
Editor : Krisna Widi Aria











