SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Keterbatasan pendidikan bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih kesuksesan. Hal ini dibuktikan oleh Sumarno (33), pria asal Tegal yang kini berhasil mengembangkan bisnis kuliner dengan brand Martabak Nyong.
Meski hanya mengantongi ijazah Sekolah Dasar (SD), kegigihan dan mental yang kuat membawanya bertransformasi dari pedagang gerobak keliling hingga memiliki beberapa cabang di lokasi strategis.
Perjalanan usahanya tidak instan. Sebelum dikenal luas, Sumarno memulai dari nol. Ia pernah menjalani hari-hari dengan berjualan secara mangkal maupun berkeliling menggunakan gerobak di wilayah Kabupaten Serang, sambil menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Di balik proses tersebut, ada banyak momen sunyi yang tidak terlihat orang lain, saat harus tetap berjualan meski lelah, menunggu pembeli di tengah ketidakpastian, hingga menahan rasa khawatir ketika dagangan belum tentu habis. Namun, dari situlah keteguhan Sumarno perlahan terbentuk.
“Perasaan saya saat mau mulai itu harus siap lahir batin. Bukan cuma modal uang, tapi keahlian dan mental juga harus siap,” kenang Sumarno saat menceritakan awal mula terjun ke dunia usaha.
Keinginan untuk memiliki usaha dengan merek sendiri akhirnya terwujud pada tahun 2018. Ia memilih martabak sebagai produk utamanya, tidak hanya karena peluang pasar, tetapi juga untuk meneruskan keahlian keluarga yang kemudian ia kembangkan dengan sentuhan inovasi.
Titik balik usahanya terjadi ketika ia bergabung sebagai mitra UMKM di Indomaret. Kehadiran lokasi berjualan yang lebih tetap memberikan perubahan besar bagi perkembangan usahanya.
“Alhamdulillah, sekarang kondisi ekonomi keluarga jauh lebih baik dan tercukupi,” imbuh ayah satu anak tersebut.
Saat ini, Martabak Nyong telah hadir di beberapa titik di wilayah Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, seluruhnya sebagai bagian dari Mitra UMKM Teras Indomaret.
Kesuksesan yang diraih tidak ia nikmati sendiri. Sumarno turut membuka lapangan pekerjaan bagi sejumlah karyawan, yang sebagian berasal dari kampung halamannya di Tegal. Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjadi sarana untuk membantu sesama.
Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan tetap ada, mulai dari persaingan usaha hingga naik turunnya harga bahan baku.
Ia pun terus berupaya menjaga usahanya agar tetap berjalan dalam berbagai kondisi.
“Kita harus pintar mengelola keuangan supaya usaha tetap jalan saat harga bahan naik. Yang penting pantang menyerah, tetap semangat, karena namanya usaha pasti ada naik turunnya,” tambahnya.
Ke depan, Sumarno berencana mengembangkan usahanya ke wilayah yang lebih luas, seperti Kota Serang, Rangkasbitung, hingga Tangerang.
Kisah Sumarno menjadi bukti bahwa kemitraan antara pelaku UMKM dan ritel modern dapat mendorong pertumbuhan usaha sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Dari pedagang keliling, kini ia tumbuh menjadi pelaku usaha yang inspiratif, membuktikan bahwa keyakinan, kerja keras, dan ketekunan adalah modal utama dalam berwirausaha. (*)











