SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Himpunan Mahasiswa (HMJ) Pendidikan Biologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar program Biology Education and Care (BIOEDUCARE) 2026 di SMP Negeri 2 Tirtayasa, Kabupaten Serang.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut, mahasiswa mengajak para siswa memahami pentingnya mitigasi bencana berbasis ekosistem mangrove sebagai upaya membangun kesadaran menjaga wilayah pesisir sejak usia dini.
Program yang merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi pada bidang pengabdian kepada masyarakat itu dikemas melalui pembelajaran yang memadukan materi di kelas dengan praktik langsung di lapangan.
Ketua Tim Pendidikan BIOEDUCARE 2026, Najwa, mengatakan edukasi mitigasi bencana merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana di wilayah pesisir. Menurutnya, pendidikan kebencanaan perlu dikenalkan sejak dini agar menjadi bagian dari budaya masyarakat.
“Kami berharap melalui program edukasi mitigasi bencana ini pemahaman siswa maupun masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan dapat meningkat. Kesadaran tersebut perlu dibangun sejak dini agar mereka mampu menghadapi risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya,” ujar Najwa kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat, 24 Juli 2026.
Selain menerima materi pembelajaran, para siswa juga diajak melakukan penanaman mangrove di kawasan konservasi Jembatan Pelangi, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa. Kegiatan tersebut menjadi sarana belajar secara langsung mengenai manfaat mangrove dalam menjaga garis pantai sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir.
Dalam penyampaian materi, tim pendidikan memanfaatkan modul pembelajaran ekosistem mangrove yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memudahkan peserta memahami hubungan antara pelestarian lingkungan dengan upaya pengurangan risiko bencana.
Ketua Umum HMJ Pendidikan Biologi Untirta, Zaki, menjelaskan BIOEDUCARE 2026 tidak hanya berfokus pada edukasi mitigasi bencana. Berbagai program lain juga diselenggarakan, seperti bedah film, perpustakaan keliling, pembangunan pojok baca, hingga penelitian mengenai evaluasi pascapenanaman mangrove serta perubahan luas lahan hijau di Desa Lontar.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa mampu mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu program yang berkelanjutan.
Zaki menambahkan, keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat memberikan pengalaman berharga yang tidak sepenuhnya diperoleh di bangku kuliah. Hal senada disampaikan Najwa yang menilai proses pengabdian menjadi ruang belajar bersama masyarakat.
“Kami belajar bersama masyarakat. Dari proses itu mahasiswa dapat memahami persoalan nyata sekaligus mencari solusi bersama melalui pendekatan ilmiah dan pendidikan,” tuturnya.
Melalui BIOEDUCARE 2026, HMJ Pendidikan Biologi Untirta berharap semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap lingkungan, memahami pentingnya mitigasi bencana, serta mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.*
Editor : Krisna Widi Aria








