SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Panggung Satu Asa Radar Banten terus didorong menjadi ruang ekspresi sekaligus wadah pelestarian seni dan budaya Nusantara. Tidak hanya menampilkan kesenian khas Banten, panggung tersebut juga membuka ruang bagi berbagai kesenian daerah lain untuk tampil dan dikenal masyarakat.
Direktur Radar Banten, Mashudi, mengatakan Panggung Satu Asa ke depan akan menghadirkan beragam atraksi seni dan budaya sebagai bagian dari kekayaan Nusantara. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas ruang apresiasi masyarakat terhadap berbagai kesenian tradisional.
“Kami merencanakan, selain budaya Banten, seni budaya Nusantara juga ingin dihadirkan di tempat ini. Alhamdulillah, malam ini mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat. Bahkan, hasilnya melebihi harapan kami. Penampilan salah satu seni budaya Jawa yang kami hadirkan cukup sukses,” ujar Mashudi, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap penampilan Campursari Banyu Mili menjadi sinyal positif bahwa seni budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Bahkan, sejumlah pengunjung berharap pertunjukan campursari dapat kembali digelar pada kesempatan berikutnya.
“Pengunjung juga menyampaikan bahwa mereka ingin campursari tidak hanya digelar malam ini saja, tetapi juga pada kesempatan lain. Tentu ini menjadi pertimbangan kami,” katanya.
Mashudi menuturkan, respons positif tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional mampu diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Penonton yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat Jawa, tetapi juga dari berbagai daerah dan suku lainnya.
Menurutnya, keberagaman penonton menjadi bukti bahwa seni budaya dapat menjadi ruang pemersatu masyarakat. Pertunjukan kesenian tradisional tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi juga menjadi hiburan bersama bagi masyarakat.
“Yang hadir bukan hanya orang Jawa. Banyak juga dari Sumatera dan berbagai daerah lain yang ikut hadir di tempat ini. Mereka juga bisa menikmati,” ujarnya.
Mashudi menambahkan, Panggung Satu Asa tidak hanya akan menghadirkan campursari. Berbagai kesenian tradisional lainnya juga telah dan akan ditampilkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman budaya kepada masyarakat.
Ia berharap para pelaku seni dan komunitas budaya dari berbagai daerah dapat berkolaborasi dengan Panggung Satu Asa untuk menghadirkan pertunjukan yang beragam dan menarik.
“Bukan cuma campursari dan beberapa seni budaya yang lain yang sudah pernah kami tampilkan. Seni budaya lainnya juga kami harapkan bisa berkolaborasi bersama kami,” tuturnya.
Mashudi juga menyampaikan apresiasi kepada Campursari Banyu Mili yang telah tampil di Panggung Satu Asa. Menurutnya, kolaborasi dengan grup musik tersebut bukanlah hal baru karena Radar Banten Group telah menjalin kerja sama sejak belasan tahun lalu.
Ia menyebut penampilan Campursari Banyu Mili kali ini menjadi momentum untuk mengobati kerinduan masyarakat terhadap kesenian campursari yang sebelumnya pernah hadir di lokasi yang sama.
“Bagi kami, Campursari Banyu Mili sudah tidak asing. Kami sudah lama berkolaborasi dengan mereka, belasan tahun yang lalu. Sekarang kami bertemu kembali, mungkin menjadi pengobat rindu, atau dalam istilah Jawa tombok kangen, bagi masyarakat pecinta campursari,” katanya.
Mashudi menilai, meski hadir dengan suasana dan kemasan yang berbeda, semangat menghadirkan kesenian tradisional kepada masyarakat tetap menjadi bagian penting dari Panggung Satu Asa.
Ke depan, Radar Banten Group bersama manajemen Satu Asa Kopi berkomitmen terus mengembangkan kegiatan tersebut. Panggung Satu Asa diharapkan menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, seniman, komunitas, serta berbagai kekayaan seni budaya Nusantara.
“Kami dari Radar Banten Group dan manajemen Satu Asa Kopi mengucapkan terima kasih kepada Campursari Banyu Mili. Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut,” pungkasnya.*
Editor : Krisna Widi Aria









