KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tangerang Selatan membuka Sayembara Desain Batik Khas Kota Tangerang Selatan 2026. Kompetisi tersebut terbuka bagi masyarakat umum dengan total hadiah jutaan rupiah.
Ketua Dekranasda Kota Tangerang Selatan, RR Truetami Ajeng, mengatakan sayembara ini digelar sebagai upaya menghadirkan motif batik yang mampu menjadi identitas budaya Kota Tangerang Selatan sekaligus mengangkat potensi dan kekayaan lokal daerah.
“Melalui sayembara ini kami ingin menghadirkan motif batik yang memiliki karakter kuat, mencerminkan kekayaan budaya, sejarah, serta jati diri Kota Tangerang Selatan sehingga nantinya dapat menjadi identitas yang dibanggakan masyarakat,” ujar Ajeng melalui keterangan resmi yang diterima Radar Banten, Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut Ajeng, batik tidak hanya bernilai sebagai karya seni, tetapi juga menjadi media untuk menceritakan sejarah, budaya, hingga filosofi suatu daerah.
“Karena itu, peserta diharapkan mampu menghadirkan desain yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki makna yang kuat,” ujarnya.
“Kami berharap lahir karya-karya terbaik yang dapat diaplikasikan sebagai batik khas Kota Tangerang Selatan dan digunakan secara luas sebagai simbol kebanggaan daerah,” tambahnya.
Ajeng menjelaskan, sayembara ini terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa dipungut biaya pendaftaran. Masa pendaftaran berlangsung mulai 20 Juli hingga 19 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB.
Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu desain dengan melampirkan surat pernyataan keaslian karya, identitas diri, filosofi desain, serta contoh penerapan pada busana kerja pria dan wanita.
Tema utama yang diangkat dalam sayembara ini adalah Bunga Anggrek Tangsel dan/atau Rumah Blandongan yang dipadukan dengan unsur khas Kota Tangerang Selatan, seperti budaya, sejarah, flora, fauna, bangunan ikonik, maupun kuliner daerah.
Seluruh karya wajib orisinal, belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan lain, tidak menjiplak, serta tidak menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembuatannya.
Selain mengirimkan desain dalam format PDF ukuran A3 dengan resolusi minimal 300 dpi, peserta juga diwajibkan membuat video dokumentasi proses pembuatan desain berdurasi maksimal satu menit.
Ajeng mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berpartisipasi dalam menciptakan motif batik yang kelak menjadi identitas budaya Kota Tangerang Selatan.
“Kami berharap sayembara ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkarya sekaligus melahirkan motif batik yang dapat diwariskan dan menjadi kebanggaan Kota Tangerang Selatan,” pungkasnya.*
Editor : Krisna Widi Aria











