• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Catatan Sekam

Datang Sebelum Api Datang

Mashudi by Mashudi
Kamis, 27 Agustus 2026 07:55
in Catatan Sekam
0
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Catatan Sekam

0
SHARES
47
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Setiap musim kemarau, ada satu berita yang hampir se­lalu muncul: kebakaran hutan dan lahan. Waktunya se­perti sudah terjadwal. Sekitar Juli, Agustus, September. Mulai terlihat asap. Titik api bertambah. Petugas ber­datangan. Tidak lama kemudian helikopter ikut terbang melakukan water bombing. Lalu kita ramai-ramai bicara kar­hutla. Begitu hampir setiap tahun.

Saya membuka data Kementerian Kehutanan. Dalam lima tahun, 2021 sam­pai 2025, luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2.461.378 hektare. Paling parah terjadi pada 2023, men­capai 1.161.192 hektare.

Angka sebesar itu sulit dibayangkan. Yang lebih mudah mungkin asapnya. Sesak napasnya. Sekolah yang terganggu. Kebun yang rusak.

Saya mencoba mencari kerugian eko­nomi akibat karhutla selama lima tahun itu. Tidak menemukan satu angka na­sional yang terkonsolidasi.

Mungkin memang sulit menghitung­nya. Sebab yang terbakar bukan hanya po­hon dan lahan. Ada hasil pertanian yang hilang, produksi yang terganggu, biaya kesehatan, pendidikan dan pari­wi­sata. Belum biaya memadamkan api. Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI-Polri dan daerah sama-sama me­ngeluarkan biaya. Kalau semuanya dikum­pulkan, saya tidak tahu berapa jumlahnya. Yang pasti sangat mahal.

Tahun ini kebakaran kembali terjadi di berbagai daerah. Pemerintah sebe­narnya sudah melakukan pencegahan. Ada patroli rutin, patroli terpadu, pe­man­tauan hotspot dan operasi bersama. TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, pe­merintah daerah dan masyarakat sudah turun di sejumlah wilayah. Artinya, kita tidak memulai dari nol.

Yang perlu dipikirkan adalah bagai­mana kekuatan itu datang lebih awal, lebih besar dan lebih terstruktur. Kalau se­tiap tahun kita tahu musimnya, bu­lan-bulannya, bahkan daerah yang berulang kali terbakar, mengapa operasi pen­cegahan tidak diperkuat jauh sebelum api muncul? Kita seperti punya ka­lender karhutla.

Di sinilah TNI dan Polri punya kekuat­an penting. Mereka memiliki kemam­puan mobilisasi personel, jaringan sam­pai daerah, disiplin komando dan pe­ngalaman operasi lapangan. Kalau diberi tugas khusus dengan wilayah dan waktu yang jelas, kemampuan itu bisa menjadi kekuatan besar dalam pen­cegahan karhutla. Bukan menggan­tikan Polisi Kehutanan atau Manggala Agni. Justru memperkuat mereka.

Personel bisa ditempatkan di wilayah rawan ketika hutannya masih hijau. Ber­patroli, mengawasi titik rawan dan aktivitas pembukaan lahan. Kehadiran aparat saja saya kira cukup membuat orang yang berniat membawa api ber­pikir dua kali.

Mana yang lebih murah: menempatkan per­sonel tiga atau empat bulan di dae­rah rawan, atau mengerahkan ribuan orang ketika api membesar? Patroli atau helikopter? Kalau perlu, hitung saja biaya avturnya.

Polri memiliki Operasi Aman Nusa II untuk penanggulangan bencana, ter­masuk karhutla. Kementerian Kehu­tanan juga menjalankan patroli terpadu ber­sama TNI, Polri dan masyarakat. Jadi yang dibutuhkan mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Yang dibutuhkan adalah memperbesar, me­majukan waktunya dan membuatnya lebih serentak di wilayah rawan. Bukan hanya soal berapa banyak orang yang bisa dikerahkan, tetapi kapan kekuatan sebesar itu mulai digerakkan. Operasi pencegahan yang dimulai sebelum ke­adaan menjadi darurat.

Kalau perlu, diberi identitas yang mu­dah diingat. Bisa saja kita menye­butnya “Operasi Wana Raksa”. Bukan sekadar memadamkan kebakaran, tetapi menjaga hutan dan lahan agar api tidak sempat datang.

Selama ini kita sudah sangat hebat ketika api datang. Personel dikerahkan. Posko dibangun. Helikopter terbang. Anggaran keluar.

Mungkin sekarang kekuatan itu harus di­majukan. Datang sebelum api datang. Petugas datang lebih dulu. Tidak perlu membawa selang. (*)

Tags: Catatan Sekam
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Pemkab Serang Siapkan Anggaran Mitigasi Bencana Rp48 Juta per Kecamatan

Next Post

Kasus Penarikan Kendaraan di Taktakan, Oknum TNI Bacok Anggota Brimob

Next Post
Kasus Penarikan Kendaraan di Taktakan, Oknum TNI Bacok Anggota Brimob

Kasus Penarikan Kendaraan di Taktakan, Oknum TNI Bacok Anggota Brimob

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Perempuan mengalami kelelahan mata setelah menggunakan laptop dalam waktu lama

Terlalu Lama Menatap Layar Picu Digital Eye Strain, Ini Cara Mencegahnya

by Agung S Pambudi
Kamis, 27 Agustus 2026 21:31
0

SERANG,RADARBANTEN.CO.ID–Penggunaan ponsel, komputer, tablet, hingga televisi dalam waktu lama dapat memicu digital eye strain atau kelelahan mata akibat penggunaan perangkat...

48 Pedagang Pasar Lama Bakal Direlokasi ke Pasar Kepandean

48 Pedagang Pasar Lama Bakal Direlokasi ke Pasar Kepandean

by Nahrul Muhilmi
Kamis, 27 Agustus 2026 20:38
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menyiapkan relokasi 48 pedagang yang saat ini beraktivitas di kawasan Pasar Lama ke...

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.