KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID — Sebanyak 2.387 remaja di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terdeteksi mengalami gejala depresi berdasarkan hasil skrining dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Temuan tersebut menjadi perhatian DPRD Kota Tangsel. Lembaga legislatif itu berencana membahas langkah penanganan bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel dan perangkat daerah terkait.
Ketua Komisi II DPRD Tangsel Ricky Yuanda mengatakan, jumlah remaja yang terdeteksi mengalami gejala depresi tersebut menjadi perhatian serius.
Menurutnya, diperlukan langkah penanganan yang lebih terukur dan menjangkau kelompok remaja di berbagai lingkungan.
“Data ini tentu menjadi perhatian kami. Jangan sampai persoalan yang dialami anak-anak dan remaja ini tidak tertangani dengan baik. Kami akan mencoba membahasnya bersama dinas terkait dan Pemkot untuk mencari langkah konkret yang bisa segera dilakukan,” ujar Ricky, Selasa, 1 September 2026.
Ia menilai sosialisasi dan edukasi mengenai kesehatan mental perlu diperluas. Penanganan, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah karena sebagian remaja yang terdeteksi mengalami gejala depresi bukan berstatus sebagai pelajar.
Berdasarkan data hasil skrining, dari total 2.387 remaja yang terdeteksi mengalami gejala depresi, sebanyak 629 orang masih berstatus pelajar tingkat SMA. Sementara sisanya berasal dari kelompok remaja di luar lingkungan sekolah.
Karena itu, Ricky mendorong Pemkot Tangsel melibatkan kelurahan, kecamatan, hingga berbagai komunitas dalam upaya pendataan, skrining, dan pendampingan terhadap remaja yang membutuhkan perhatian.
“Pendekatannya harus lebih luas. Remaja itu ada di sekolah, tetapi banyak juga yang berada di lingkungan masyarakat. Karang Taruna, komunitas pemuda, hingga kelompok remaja lainnya perlu menjadi bagian dari upaya deteksi dan pendampingan,” katanya.
Menurut Ricky, data hasil CKG tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun langkah penanganan yang lebih tepat sasaran.
DPRD Tangsel juga akan meminta penjelasan mengenai tindak lanjut yang telah dan akan dilakukan perangkat daerah terkait.
“Kami ingin memastikan data yang sudah ditemukan ini benar-benar ditindaklanjuti. Nantinya akan dilihat kebutuhan di lapangan seperti apa, program apa yang harus diperkuat, dan bagaimana pola pendampingan yang paling tepat bagi para remaja,” jelasnya.
Ia berharap pembahasan antara DPRD dan Pemkot Tangsel dapat menghasilkan solusi konkret untuk mencegah persoalan kesehatan mental pada remaja berkembang menjadi lebih serius.
“Ini harus menjadi perhatian bersama. Harapannya, pemerintah bisa semakin aktif melakukan edukasi, deteksi dini dan pendampingan agar remaja yang mengalami tekanan psikologis bisa mendapatkan bantuan sejak awal,” pungkasnya.
Hasil Skrining CKG
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Alin Hendalin Mahdaniar menjelaskan, temuan tersebut diperoleh melalui proses skrining terhadap remaja dalam program CKG.
Skrining dilakukan melalui sejumlah pertanyaan untuk mengetahui kondisi psikologis peserta. Berdasarkan hasil skrining tersebut, sebanyak 2.387 remaja terdeteksi mengalami gejala depresi.
Alin menyebut terdapat sejumlah faktor yang diduga memengaruhi kondisi psikologis para remaja, mulai dari tekanan yang dihadapi hingga kekhawatiran terhadap masa depan.
Temuan tersebut kini menjadi perhatian berbagai pihak di Tangsel. DPRD berharap Pemkot dapat memperkuat langkah pencegahan dan penanganan dengan melibatkan sekolah, keluarga, serta lingkungan masyarakat.
Reporter: Syaiful Adha – Editor : Aas Arbi

