SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Abu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Anak Krakatau tidak bisa disamakan dengan debu biasa. Material hasil erupsi tersebut terdiri dari partikel batuan dan mineral berukuran sangat halus yang dapat terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan manusia.
Abu vulkanik terbentuk ketika magma dan batuan di sekitar kawah terpecah akibat tekanan serta proses erupsi. Ukurannya sangat beragam, mulai dari partikel yang relatif kasar hingga partikulat sangat halus yang dapat melayang di udara.
Partikel berukuran kecil menjadi perhatian karena dapat terhirup hingga bagian dalam saluran pernapasan. Beberapa jenis abu vulkanik juga dapat mengandung silika kristalin, meski komposisi abu dapat berbeda antara satu gunung api dengan gunung api lainnya dan perlu dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Paparan abu vulkanik dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Keluhannya antara lain batuk, tenggorokan terasa gatal, hidung berair, serta rasa tidak nyaman ketika bernapas.
Pada mata, abu dapat menyebabkan rasa perih, merah, berair, hingga iritasi. Kondisi ini dapat semakin mengganggu ketika seseorang berada di lokasi dengan konsentrasi abu yang tinggi atau dalam waktu paparan yang lama.
Risiko lebih besar perlu diwaspadai kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki asma atau penyakit paru dan jantung. Paparan partikulat dapat memperburuk keluhan pernapasan yang sebelumnya sudah dimiliki.
Bukan Hanya Abu
Bahaya erupsi juga tidak hanya berasal dari abu. Aktivitas gunung api dapat melepaskan gas vulkanik, termasuk sulfur dioksida (SO₂), yang pada konsentrasi tertentu dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.
Karena itu, warna atau ketebalan abu yang terlihat mata tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan tingkat bahayanya. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh ukuran partikel, konsentrasi di udara, lamanya paparan, kondisi cuaca, serta kondisi kesehatan seseorang.
Jangan Tunggu Sampai Sesak
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika abu sedang turun atau kualitas udara memburuk.
Jika harus keluar rumah, gunakan masker atau respirator partikulat yang sesuai. Respirator seperti N95 dapat memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel abu dibandingkan masker kain atau masker biasa. Gunakan pula kacamata untuk melindungi mata dari partikel abu.
Ketika abu masuk ke mata, jangan menggosoknya. Segera bilas dengan air bersih. Jika mata tetap terasa sakit, kemerahan berat, atau penglihatan terganggu, segera periksakan ke fasilitas kesehatan.
Sementara jika abu terhirup dan menimbulkan batuk atau iritasi, segera pindah ke lokasi dengan udara yang lebih bersih. Masyarakat perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, napas berbunyi, atau gangguan pernapasan yang semakin berat.
Hati-hati Saat Membersihkan Abu
Abu yang telah mengendap di rumah juga perlu dibersihkan dengan hati-hati. Jangan menyapu abu dalam kondisi kering karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.
Gunakan perlindungan pernapasan dan mata saat membersihkan. Abu juga sebaiknya dibasahi secukupnya agar tidak mudah beterbangan, kemudian dikumpulkan dan dibuang dengan cara yang aman.
Masyarakat di wilayah terdampak juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan erupsi dan sebaran abu dari PVMBG, BPBD, Dinas Kesehatan, serta pemerintah daerah.
Abu vulkanik memang terlihat seperti debu biasa. Namun, karena ukurannya sangat halus dan dapat membawa partikel mineral ke saluran pernapasan, paparan sebaiknya tidak dianggap sepele.
Reporter: Yusuf Permana – Editor: Aas Arbi












