SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemilik usaha di Kawasan Pancatama, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang meminta agar pekerjaan yang dilakukan oleh PT Sarana Catur Tirta Kelola (SCTK) yang tengah membuat jaringan pipa di wilayah tersebut agar tidak diganggu.
Pasalnya, adanya pembangunan jaringan pipa untuk akses air bersih dinilai mampu meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di zona industri mengingat air merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi.
Salah satu perwakilan perusahaan makanan dan minuman di Pancatama, Jeffri, mengatakan air merupakan kebutuhan mendasar yang harus terpenuhi. Apalagi untuk sebuah industri, kebutuhan air menjadi sebuah keniscayaan untuk pemenuhan kebutuhan operasional.
Menurutnya, adanya pihak ke tiga yang siap berinvestasi untuk menyediakan akses air bersih ke kawasan Pancatama harusnya bisa didukung oleh seluruh pihak, termasuk mereka yang mengaku sebagai pengelola. “Bukan justru dipersulit sehingga akhirnya berdampak pada perusahaan-perusahaan yang ada di lokasi tersebut,” katanya, Kamis 17 September 2026.
Jefrri menilai, adanya tindakan seperti itu tentunya akan berpengaruh pada minat investor untuk berinvestasi di Pancatama.
“Kalau pro investasi tentunya harus dipermudah oleh pengelola kawasan, kalau kontra investasi tentu tindakan mempersulit ini yang dilakukan. Kalau memang mempersulit, sama saja kita menjual daerah untuk tidak diminati investor,” tegasnya.
Ditambah lagi, kondisi air tanah di wilayah tersebut sangat buruk sehingga apabila tidak ada pihak ke tiga yang masuk, maka kebutuhan air bersih tidak dapat terpenuhi.
“Kondisi air tanah di lokasi perusahaan tidak memungkinkan untuk digunakan karena payau dan tidak sustain. Selama ini kami memenuhi kebutuhan air dengan menggunakan air permukaan melalui SCTK. Keinginan kami seiring berkembangnya perusahaan, fasilitas baik air, listrik, dan yang lain-lain itu diimbangi. Jangan sampai dihalang-halangi,” tegasnya.
Perwakilan dari salah satu perusahaan yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sangat membutuhkan akses air bersih untuk operasional perusahaan. Maka dari itu, ia ingin agar tidak ada pihak yang mengganggu pengerjaan jaringan air bersih yang sedang dilakukan oleh PT SCTK.
“Kami sangat butuh air dari SCTK. Jadi kalau andalin sumur sih enggak memungkinkan, walaupun kita sebenarnya punya izin. Makanya yang kami harapkan itu adalah air bersih sebenarnya,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, rencananya perusahaan akan mulai beroperasional di tahun depan dan proses pembangunan ditargetkan rampung di tahun ini.
“Makanya sebelum jalan itu kami harus sediain dulu air bersih karena di sana nanti bakal jadi tempat office dan tempat tinggal juga para pengurus karyawan gitu di sana,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Komersial dan External Relations PT SCTK, Deden Rochmawaty, mengatakan pihaknya sering melakukan pertemuan dengan para mitra. Ia mengaku, mendapat input dari para mitra di Pancatama yang membutuhkan pasokan air. SCTK mengaku sudah siap dari sisi pengerjaan maupun tenaga kerja. Namun terbentur perizinan.
“Kami pun sudah siap pelaksanaannya baik pengerjaan maupun tenaga yang harus disiapkan untuk pelaksanaan pekerjaan. Tapi kami masih terkendala dari pengelola kawasan Pancatama,” katanya.
Ia berharap ada pertemuan dengan pengelola kawasan untuk mencari jalan keluar, mengingat SCTK merupakan perusahaan pelayanan publik yang harus melayani kebutuhan industri besar.
Di Kawasan Pancatama, tercatat ada 7 industri yang mengajukan kebutuhan air. Dari jumlah tersebut lima perusahaan hadir sedangkan 2 berhalangan.
Menurut Deden, SCTK sudah melayani Kawasan Pancatama sejak awal berdiri dengan lebih dari 50 pelanggan. Namun sistem perizinan yang baru diterapkan pengelola tahun ini membuat proses terhambat.
“Yang lama-lama kita sudah cukup banyak, mungkin lebih dari 50 sejak berdirinya SCTK. Tapi sistem yang dikenakan ini baru tahun ini. Sehingga kami perlu me-review dan minta audiensi lagi kepada pengelola yang betul-betul ditunjuk oleh Pancatama,” jelasnya.
Deden menegaskan, secara konsep kawasan industri seharusnya sudah menyiapkan utilitas dasar seperti listrik, air, dan gas saat menjual kavling kepada investor. Ia menegaskan, kehadiran SCTK ialah sebagai mitra strategis yang siap memberikan pelayanan air di wilayah Industri Serang Timur.
“Sejauh setahu saya kawasan industri itu di kala mereka menjual kavlingnya dan yang beli membangun industri, kawasan itu sudah menyiapkan utilitas,” ujarnya.
Para pemohon, kata dia, sudah membutuhkan air sejak bulan lalu. SCTK menargetkan pengerjaan pemasangan pipa hingga pelayanan air bisa rampung dalam 2 sampai 3 minggu, tergantung besaran pipa dan kebutuhan.
“Kasihan sekali kalau mereka butuh air di Oktober tapi masalah ini belum selesai. Kami berusaha bertemu lagi dengan pengelola kawasan tersebut sehingga bisa men-speed up semua pekerjaan,” pungkasnya.












