SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Banten mendorong agar adanya pembentukan relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) di masing-masing desa.
Hal ini dilakukan agar mitigasi bencana dan penanganan bencana bisa dilakukan dengan maksimal sehingga mengurangi tingkat fatality akibat bencana yang terjadi.
Itu penting dilakukan karena, setiap wilayah memiliki bentang alam yang berbeda sehingga potensi bencana yang dapat terjadi juga berbeda-beda. .
Ketua PMI Provinsi Banten, Ratu Tatu Chasanah mengatakan, keberadaan relawan Sibat di tingkat desa sangat penting agar penanganan bencana lebih cepat.
“Kami titipkan ke Pak Wakil Bupati Serang bahwa di setiap desa itu harus dibentuk Sibat. Karena relawan itu harus ada di desa masing-masing di mana mereka punya potensi bencana. Karena lebih dekat lebih baik dan mereka punya pembekalan,” katanya, Rabu 17 September 2026.
Pihaknya bahkan siap dilibatkan dalam melakukan pelatihan dan pembekalan untuk relawan Sibat. Nantinya setiap relawan akan dibekali kemampuan memetakan potensi bencana di wilayahnya. Sehingga ketika bencana terjadi, mereka tahu harus berbuat apa dan apa yang harus dilakukan pasca bencana untuk membantu masyarakat.
Saat ini, dari seluruh desa di Provinsi Banten, baru 53 desa yang telah memiliki Sibat. Pembentukannya tidak bisa dilakukan oleh PMI sendiri, melainkan harus berkolaborasi dengan pemerintah desa, kecamatan, kabupaten/kota, serta TNI-Polri.
“Dari semua se-Provinsi Banten baru 53 desa. Karena ini tidak bisa berdiri sendiri PMI yang membentuk tapi harus berkolaborasi dengan pemerintah karena pemerintahan desa, kecamatan ada di kabupaten/kota dan saya juga bicara dengan TNI Polri karena di sana juga ada Babinsa, Babinkamtibmas,” katanya.
Tatu menyebut, sumber daya relawan di desa cukup banyak, mulai dari anggota Pramuka, Karang Taruna, hingga organisasi kepemudaan lainnya. PMI siap memberikan pelatihan karena sudah ada SOP dari PMI Pusat.
“Tinggal dihimpun kita beri pelatihan. Karena itu sudah ada SOP-nya dari PMI pusat, semua provinsi harus membentuk dan semua desa yang punya potensi bencana,” ujarnya.
Ia menekankan potensi bencana tiap desa berbeda-beda. Ada yang rawan banjir, kebakaran, hingga puting beliung. Oleh karena itu masyarakat setempat harus tahu potensi bencana di desanya masing-masing.












