SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Serang menemukan ratusan siswa dengan hasil tekanan darah di atas normal. Namun, temuan tersebut tidak serta-merta membuat siswa dinyatakan mengalami hipertensi.
Petugas kesehatan masih melakukan pemeriksaan berulang dan konsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi masing-masing siswa. Langkah itu dilakukan karena tekanan darah anak tidak cukup ditentukan melalui satu kali pengukuran.
Kepala UPTD Puskesmas Serang Kota, Ima Hikmah mengatakan, dari pemeriksaan yang telah dilakukan di 31 satuan pendidikan, tercatat sebanyak 716 siswa memiliki hasil tekanan darah yang masuk kategori prehipertensi.
“Pemeriksaan itu sudah tiga kali, ternyata memang tensinya lebih dari 120/80. Ada yang kita temukan 130/90,” kata Ima, Jumat, 18 September 2026.
Hingga Jumat, 18 September 2026, pemeriksaan CKG telah menjangkau 31 dari total 38 satuan pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Serang Kota.
Sasaran pemeriksaan tersebut terdiri dari 35 sekolah negeri, dua pondok pesantren, dan satu sekolah luar biasa (SLB). Masih terdapat tujuh satuan pendidikan yang belum menjalani pemeriksaan.
Ima menjelaskan, hasil tekanan darah yang tinggi pada siswa belum dapat langsung disimpulkan sebagai hipertensi. Petugas terlebih dahulu melakukan pemeriksaan berulang untuk melihat apakah kondisi tersebut memang menetap.
“Kalau memang hasilnya masih tinggi, kita konsultasikan ke dokter. Jadi tidak langsung kita simpulkan hipertensi,” ujarnya.
Siswa yang memiliki hasil tekanan darah tinggi kemudian diarahkan untuk melakukan pemeriksaan ulang di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya menjadi bahan konsultasi dengan dokter untuk menentukan tindak lanjut.
Menurut Ima, pendekatan tersebut penting dilakukan agar kondisi kesehatan siswa tidak langsung disimpulkan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan.
Selain tekanan darah, CKG juga memeriksa gula darah sewaktu (GDS) para siswa. Dari pemeriksaan yang telah dilakukan hingga saat ini, belum ditemukan hasil GDS siswa yang berada di atas batas normal.
Meski demikian, pola konsumsi anak tetap menjadi perhatian. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis serta jajanan dengan kandungan gula dan garam tinggi perlu diawasi karena pola makan turut berpengaruh terhadap kesehatan anak.
Ima juga mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan bentuk tubuh sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai kesehatan anak.
“Kadang anaknya kurus, tapi bukan berarti tidak ada risiko. Jadi pola makan tetap harus diperhatikan,” katanya.
Menurutnya, anak yang terlihat kurus tetap membutuhkan asupan makanan bergizi dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pola konsumsi makanan dan minuman juga perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan anak.
Orang tua diminta ikut mengawasi makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, termasuk jajanan yang dibeli selama berada di lingkungan sekolah.
Pemeriksaan CKG di wilayah kerja Puskesmas Serang Kota masih berlanjut untuk menjangkau tujuh satuan pendidikan yang belum diperiksa.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menemukan kondisi kesehatan anak sejak dini sekaligus memastikan siswa yang membutuhkan perhatian medis mendapat tindak lanjut.
Editor: Abdul Rozak











