PASCAPERCERAIAN dengan suami pertama, Ponari (29), nama samaran, sudah mendapatkan pengganti suami yang lebih baik dan perhatian, sebut saja Pongki (31) yang tak lain rekan seprofesinya di salah satu industri di Serang. Meskipun secara fisik tidak lebih baik dari suami sebelumnya, sebut saja Pepen (32), yang lumayan ganteng, dan berpostur tubuh ideal. Tapi, soal nasib, antara Pongki dan Pepen, sepertinya tidak jauh beda. Pepen sendiri hanya pelayan di sebuah restoran. Yang lebih penting buat Ponari, suami barunya kini tak sekonyol yang dulu.
Diungkapkan Ponari, alasannya bercerai dengan Pepen lantaran kerap dibuat malu oleh tingkah konyol Pepen. Misalnya ketika mereka masih pacaran. Ceritanya, Ponari pernah diajak jalan oleh Pepen ke sebuah pusat perbelanjaan. Betapa senang wanita bertubuh semok itu memiliki pacar sekelas Pepen yang royal dan pengertian. Itu yang ada di benak Ponari sebelum mengenal lebih jauh soal Pepen. Namun, apa yang terjadi. Ponari tidak ditawari Pepen untuk belanja, hanya putar-putar mal seharian.
Pas diajak makan di foodcourt, makanan pun sudah dinikmati dan dihabiskan, ketika mau melakukan pembayaran, ternyata Pepen mengaku kalau uangnya kurang. Ponari pun saat itu sedang kebetulan tidak membawa persiapan. “Bagaimana enggak malu coba. Dia bilang tenang-tenang, itu soal gampang, tapi gadaikan KTP, terus menawarkan diri bantu beres-beres restoran, Astaga,” keluh Ponari mengingat masa itu sembari terkekeh-kekeh menahan tawa. Jarang-jarang tuh Teh, berkoban sampai sebegitunya.
Pengalaman lain, ketika Ponari hendak jalan-jalan ke tempat wisata. Ceritanya touring bersama teman-teman Pepen di tempat kerjaan. Dengan penuh percaya diri, Pepen mengendarai motor bebek rongsokan, tanpa bodi dan bersuara bising tak karuan untuk menjemput Ponari ke rumah sebelum berangkat touring. Beda dengan motor teman-temannya yang lebih meyakinkan.
Dari awal Ponari memang sudah curiga kalau motor yang dikendarai Pepen tidak sehat. Sudah bannya gundul, setangnya bengkok, jalannya juga tidak lancar. Selamat deh buat Ponari. Benar saja, di tengah perjalanan, tiba-tiba motor butut Pepen mogok. Memang bukan karena mesin rusak, melainkan kehabisan bensin. Hanya saja waktu itu, motor Pepen berada paling belakang rombongan touring. Terpaksa, berjalan kaki mencari pom bensin.
Jaraknya lumayan jauh hingga kiloan meter. Kebayang dong malunya dorong motor mogok yang kehabisan bensin. Padahal, suasana menuju tempat wisata itu tengah ramai-ramainya dilewati rombongan kendaraan lain yang juga hendak berwisata. Tentunya, pemandangan itu menjadi pusat perhatian dan membuat Ponari hanya bisa tertunduk malu. Beda dengan Pepen yang sepertinya lurus-lurus saja, tanpa rasa bersalah.
Setibanya di pom bensin, lebih memalukan lagi. Uang di kantong hanya tersisa lima ribu perak. Tentu, mana cukup untuk membeli bensin yang harga satu liternya saja sudah mencapai di atas Rp7 ribu. Tapi, dengan cueknya Pepen menyerahkan uang Rp5 ribu itu ke petugas pom bensin. “Ampun dah. Konyolnya Pepen tuh enggak ketolongan. Dengan santainya bilang ke petugas pom bensin, ‘lima ribu saja ya Teh!’ katanya. Si teteh petugas pom bensin sempat bengong sebelum akhirnya tetap melayani sambil senyum sinis dan terpaksa,” kesalnya.
Tangki motor pun hanya diisi dengan bensin tidak sampai seliter. Tentu, kondisi itu cukup mengkhawatirkan Ponari. Tujuan Pepen mau ke tempat wisata yang bisa masuk tanpa bawa duit sepeser pun. Pengakuannya ke pantai, tapi Ponari berpikir, mana ada objek wisata pantai yang gratis. Kalau pun gratis, dipikir Ponari, memangnya di lokasi tidak bakal jajan atau beli buah tangan.
Uniknya, dalam kondisi terpuruk begitu, Pepen masih bisa tersenyum tanpa rasa bersalah. Tapi, perilaku konyol Pepen itulah, yang kerap mengundang tawa kawan-kawannya hingga mengundang simpatik banyak orang. Lantaran itu, perjalanan hubungan mereka dengan sikap konyol Pepen masih bisa dinikmati Ponari. Itulah sekelumit pengalaman getir Ponari mengenang masa-masa berpacaran dengan Pepen (30), mantan suaminya yang belum setahun ditinggalkan.
“Pokoknya, kalau ingat masa-masa itu, ingin tertawa sendiri. Antara malu dan tahan tawa, punya pacar konyol parah,” ucap Ponari.
Dari pengalaman itulah, Ponari mengenal karakter Pepen yang lebih dari sekadar humoris. Apalagi fisik Pepen. Lelaki itu juga mempunyai banyak relasi. Itu membuat Ponari terpikat. Ia berpikir, kelak kalau mempunyai suami yang tingkahnya lucu, hidup akan selalu ceria dan lebih berwarna. Ponari tak sadar kalau sikap konyol Pepen ternyata tiada duanya.
“Pernah juga dia mengajak menonton. Dikira menonton film ke bioskop, malah menyetel video di rumah. ‘Ini juga nonton Yang’, jawabnya enteng,” ungkap Ponari. Penampilan Pepen juga tidak pernah ada yang benar. Ke mana-mana, Pepen tak pernah berpakaian resmi dan tidak pernah mau menyesuaikan, semaunya.
Perkenalan Ponari dan Pepen awalnya dikenalkan teman yang juga teman Ponari di restoran tempat Pepen kerja. Ponari tertarik sejak awal karena tingkah Pepen yang lucu. Tak pernah terpikir oleh Ponari kalau di balik itu, sifat Pepen ternyata ada bodoh-bodohnya. Namun, Ponari selalu dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh Pepen setiap kali bertemu. Sampai akhirnya, Ponari mau menerima Pepen sebagai pacar dan setahun kemudian menerima pinangan Pepen sebagai istri.
Pas hari pernikahan, kembali Ponari dibuat malu, sifat konyol Pepen kumat lagi. Pepen datang ke hari pernikahan dengan pakaian tak lazim. Bukan mengenakan jas atau kemeja lengkap dengan sepatu pantofel melainkan hanya mengenakan celana jeans dan kaus oblong dengan ekspresi wajah cuek. “Lebih parahnya lagi, dia datang dengan mata masih menempel belek. Katanya, baru bangun tidur dan belum mandi, ampun deh,” kesalnya.
Dari situ, Ponari mulai sadar kalau ternyata sifat konyol Pepen sudah kronis. Begitu pun ketika akad nikah, berapa kali Pepen mengulang sehingga selalu mengundang tawa para undangan. Setelah menjalani rumah tangga, Ponari mulai jengah dengan sifat buruk Pepen. Diawali dengan pemecatan Pepen sebagai pegawai restoran akibat sifat konyolnya.
Sejak itu, Pepen mulai ogah-ogahan mencari pekerjaan lain dan mengandalkan Ponari. Puncaknya, semua barang berharga di rumah, mulai dari motor sampai mas kawin dijualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lantaran itu, Ponari yang habis kesabaran, meski sudah dikaruniai satu anak buah pernikahan dengan Pepen dan tidak ada niatan dari Pepen untuk berubah, akhirnya Ponari memutuskan untuk bercerai.
Kini, Ponari sudah mendapat pengganti Pepen yang tak lain teman seprofesinya. “Yang pasti, orangnya enggak konyol. Insya Allah, Kang Pongki sepertinya lebih baik dari Pepen,” pungkasnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)








