RANGKASBITUNG – Penyebab kematian mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) La Tansa Mashiro, Ayu Oktaviani yang ditemukan tewas mengambang di aliran Sungai Ciujung, Kampung Baturambang, Desa Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, pada Jumat (24/3) lalu, masih menjadi misteri.
Sampai kemarin (28/3), polisi belum berhasil mengungkap penyebab tewasnya mahasiswi semester IV asal Kampung Jaura, Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung itu. “Kita masih menunggu hasil autopsi dari tim medis rumah sakit di Serang,” kata Kasatreskrim Polres Lebak Ajun Komisaris Polisi (AKP) Zamrul Aini, Selasa (28/3).
Menurutnya, dari hasil visum luar tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh wanita yang ditemukan mengambang di Sungai Ciujung itu. Namun, keterangan dari para saksi yang telah diperiksa penyidik kepolisian, Ayu menghadapi masalah di asrama kampus La Tansa Mashiro. Kondisi tersebut membuat Ayu tertekan dan meninggalkan asrama pada Rabu (22/3) lalu. “Beberapa hari belakang dia (Ayu-red) ada masalah sehingga membuatnya tertekan,” ungkapnya.
Mantan Kapolsek Kopo ini menyatakan, hasil autopsi dari dokter forensik di Serang baru diketahui satu minggu kemudian. Karenanya, pihak kepolisian tidak akan berandai-andai terkait penyebab kematian Ayu Oktaviani yang ditemukan penambang pasir di aliran Sungai Ciujung pada Jumat (24/3) lalu itu. “Polisi akan bekerja keras menyelidiki kasus kematian mahasiswi Akbid La Tansa,” jelasnya.
Ibunda Ayu Oktaviani, Yuyun membenarkan, anaknya tersebut terkena masalah di asrama kebidanan kampus La Tansa Mashiro. Telepon seluler Ayu disita pengurus asrama karena mahasiswi Akbid dilarang membawa telepon seluler. “Saya menyesalkan sikap manajemen kampus yang enggak bertanggung jawab ketika Ayu menghilang. Mereka enggak mencari anak saya dan ketika diminta untuk ikut melakukan pencarian, mereka hanya bilang Ayu di rumah temannya dan akan segera pulang,” jelasnya. (Mastur/Radar Banten)









