PARA pekerja pabrik petasan di pergudangan 99, Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang meledak dan terbakar kemarin ternyata dibayar harian. Di awal berdiri, para pekerja dibayar Rp 50.500 per hari. Kemudian, upah mereka sempat diturunkan menjadi Rp 40 ribu per hari.
Akhir-akhir ini, perusahaan mengubah sistem gaji dengan sistem borongan per kelompok. Masing-masing kelompok yang terdiri dari empat orang ditargetkan mampu membuat 921 pieces petasan setiap hari. Jika target tercapai maka mereka mendapatkan upah Rp 50.500 per hari.
“Istri saya bekerja dari jam delapan sampai jam lima sore. Tapi biasanya sebelum jam empat sore sudah pulang karena pekerjaan telah selesai,” ujar Widodo, suami dari Hamna, salah satu pekerja pabrik PT Panca Buana Cahaya Sukses, ditemui saat mencari keberadaan istrinya di RSU Kabupaten Tangerang, kemarin sore.
Warga Desa Belimbing, Yasin Roy mengatakan, sebagian besar buruh di PT Panca Buana Cahaya Sukses merupakan perempuan. Para pekerja itu rata-rata tidak memiliki pendidikan formal.
“Mayoritas pekerjanya warga sekitar sini. Sebelum jadi pabrik, tempat itu dulunya gudang besi. Mereka baru beroperasi dua bulan lalu,” ujar Roy.
Anggota DPRD Provinsi Banten Ananta Wahana meminta pihak pabrik yang meledak di Kecamatan Kosambi bertanggung jawab secara penuh. Ia mengaku prihatin dan turut berduka telah terjadi ledakan di gudang petasan di daerah Kecamatan Kosambi yang mengakibatkan 47 orang meninggal.
“Saya sangat berharap pihak perusahaan bertanggung jawab secara penuh akibat kejadian ini. Begitu juga Disnaker Kabupaten Tangerang dan Disnaker provinsi segera menurunkan tim untuk mendalami kejadian tersebut. Periksa izin, hubungan ketenagakerjaan, serta pengawasannya. Namun yang paling terpenting, segera atasi korban-korban akibat peristiwa itu. Bila telah didaftarkan sebagai kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan maka BPJS wajib segera menangani secara baik bagi para korban,” katanya.
Anggota Dewan Banten Dapil Kabupaten Tangerang itu meminta, kejadian tersebut harus menjadi pelajaran bagi perusahaan lain untuk memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja. “Saya juga berharap, pemerintah setempat juga jangan hanya menunggu kejadian saja, tapi juga melakukan pengawasan terhadap pabrik-pabrik terkait keamanan pekerjanya,” katanya. (JPG/RBG)









