TANGERANG – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan ada sembilan pekerja anak yang bekerja di gudang maut mercon PT Panca Buana Cahaya Sukses (PCBS), Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.
Hasil penelusuran itu disampaikan Komisioner Bidang Traficking dan Eksploitasi KPAI Ai Maryati Shalihah dalam pertemuannya bersama Bupati Tangerang A Zaki Iskandar dan Tokoh Pemerhati Anak Seto Mulyadi di ruang Wareng, Puspemkab Tigaraksa, Senin (6/11).
Dikatakannya, catatan ini menjadi bukti adanya pelanggaran ketenagakerajaan di pabrik tersebut. Dalam catatannya, dari sembilan pekerja di bawah umur ada dua yang meninggal yakni Siti Fatimah dan Surnah. ”Kami akan menyiapkan langkah cepat pemulihan psikologis bagi korban yang masih selamat seperti trauma healing, kejadian tersebut merupakan mimpi buruk bagi mereka,” jelasnya.
Bupati Tangerang A Zaki Iskandar mengaku ada penipuan tenaga kerja di perusahaan tersebut. Dijelaskannya, pada awal bulan Oktober tahun 2016, si pemilik hanya menyebutkan bahwa mereka mempekerjakan 35 orang. Namun seiring jalan hingga akhirnya terkuak bahwa pabrik tersebut telah melakukan penipuan jumlah tenaga kerja.
”Kami juga dikejutkan dengan jumlah tenaga kerja yang banyak hingga ratusan pekerja, dan adanya pekerja di bawah umur,” katanya.
Selain itu, pemilik pabrik kembang api pun dengan sengaja memproduksi kembang api dengan skala besar. ”Dalam izin mereka, pemilik pabrik hanya memproduksi kembang api batang kawat yang dipakai anak-anak, namun ternyata mereka juga memproduksi kembang api dengan bentuk yang besar,” jelasnya.
Ke depan, sambung Zaki, Pemkab akan melakukan pengawasan hingga ke lini paling rendah untuk proaktif melaporkan jika ada perusahaan yang mempekerjakan anak di bawah umur dan memproduksi bahan berbahaya. ”Pemkab bersama aparatur desa akan melakukan pengawasan rekrutmen agar tidak ada lagi tenaga kerja di bawah umur,” terangnya.
Hal senada diungkapkan Ketua LPAI Seto Mulyadi. Menurutnya, tragedi yang menewaskan 51 orang tersebut berdampak negatif terhadap kejiwaan anak-anak di sekitar pabrik. Ia khawatir jika lambat penanganan, gangguan psikologis yang lebih buruk akan terjadi.
”Kami khawatir, permasalahan ini akan berpengaruh terhadap kejiwaan mereka di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.
Dikatakannya, pada Jumat (10/11), LPAI akan mendatangi warga di sekitar pabrik PT Panca Buana Cahaya Sukses untuk mengetahui kondisi warga. ”Semua anak harus mendapatkan pemenuhan haknya secara optimal dan serius,” tutur pencetus tokoh Si Komo tersebut.
Lembaganya mendorong agar Pemkab Tangerang bisa membentuk satgas atau sahabat anak di tiap desa. Namun agar lebih maksimal, peran masyarakat juga dituntut dalam pengawasan tersebut. (Togar/RBG)











