Bagai sandiwara yang sering dilakoni para aktor di televisi, apa yang dirasakan Kunti (33) nama samaran, sungguh sangat memilukan. Berpura-pura bahagia di depan mertua yang menyayanginya, Kunti harus menahan perih diperlakukan kasar oleh suami, sebut saja Juling (40). Aih, kok bisa begitu Teh?
“Ya jadi ibu mertua tuh dulu teman baik almarhum ibu saya. Dia anggap saya seperti anaknya sendiri. Jadi saya enggak enak bilang ke dia kelakuan suami sebenarnya,” curhat Kunti kepada Radar Banten.
Kejadian itu berlangsung lima tahun lalu, saat Kunti berusia 28 tahun dan Juling berusia 35 tahun. Kunti terlahir dari keluarga sederhana, tidak miskin tidak juga kaya. Sang ayah yang bekerja sebagai pegawai pabrik dan ibu tak bekerja, membuat hidup Kunti bersama tiga adiknya berlangsung apa adanya. Tidak banyak menuntut pada orangtua, selepas menamatkan SMA, ia mencari nafkah guna membantu ekonomi keluarga.
Kunti mengaku, sebenarnya ia tak ingin mengakhiri masa lajang di usia muda. Masih banyak hal yang belum dicapai, bahkan Kunti berniat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun apalah daya, lantaran banyak teman seusia yang menikah setelah lulus sekolah, pola pikir kedua orangtua pun ikut terbawa lingkungan. Waduh, maksudnya dipaksa cepat-cepat nikah gitu Teh?
“Ya enggak dipaksa sih, Kang. Cuma mereka pada nyindir dan banding-bandingin gitu sama yang udah nikah. Kan kalau digituin kesel juga,” ungkap Kunti.
Kalau dilihat dari wajah, Kunti memang tidak terlalu cantik. Namun kulit putih dan bodi seksinya, dijamin bakal bikin lelaki tak bisa tidur nyenyak. Apesnya, di saat rongrongan orangtua menerpa meminta segera menikah, Kunti dilanda gelisah galau merana lantaran belum ada lelaki pujaan hati yang mengisi relung jiwa. Sejak putus dengan sang mantan sewaktu kelas satu SMA, ia belum mendapat penggantinya.
Namun bukan Kunti namanya kalau menyerah begitu saja. Mengubah penampilan menjadi lebih terlihat menggoda, Kunti sukses menarik perhatian pria di kampungnya. Bahkan, beberapa tetangga yang sudah mempunyai anak istri pun, kalau Kunti lewat depan rumah, diam-diam pasti melirikkan mata.
Namun bagai memancing di air keruh, para lelaki yang dirasa mulai tertarik, nyatanya hanya bisa bersiul pinggir jalan tanpa berani datang ke rumah. Jadilah Kunti galau tingkat dewa. Tapi, seolah Tuhan menjawab doanya, berkat kenalan seorang teman, Kunti dipertemukan dengan Juling.
Baru dipertemukan sekali di sebuah taman di Kota Serang, Kunti berani mengundang Juling datang ke rumah menemui sang ayah. Hebatnya, seolah ingin menunjukkan keseriusan, lelaki berbadan kekar dengan rambut ala-ala anak muda zaman now itu menyanggupi permintaan Kunti.
Tepat di hari yang sudah dijanjikan, Juling datang membawa serta kakak dan dua temannya. Lantaran sang ayah yang sudah tiada, ia berkata apa adanya dan berniat ingin langsung menuju jenjang pernikahan. Beruntungnya, keluarga Kunti yang tak begitu selektif soal materi langsung menerima. Dari sanalah ibunya tahu kalau orangtua Juling adalah teman dekat sewaktu muda.
Namun musibah datang tak terduga. Tak lama setelah pertemuan dengan Juling, ibunda Kunti meninggal dunia karena penyakit yang diderita sejak muda. Saat itu Kunti sadar, alasan sang ibu ingin segera ia cepat menikah ialah ingin melihat kunti bahagia sebelum pergi selamanya. Hebatnya, seolah tak mau terlalu lama menanggung duka, Kunti menguatkan diri melanjutkan rencana bersama sang kekasih.
Singkat cerita, keduanya pun sepakat menuju jenjang pernikahan. Merayakan pesta sederhana, hanya mengundang kerabat dan teman kedua mempelai, pernikahan Kunti dan Juling berlangsung lancar. Mengikat janji sehidup semati, mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
Di awal pernikahan, Juling bersikap sebagai seorang pemimpin rumah tangga yang menyayangi istri. Tinggal bersama keluarga Kunti, ia selalu menunjukkan perilaku baik. Bekerja sebagai pelayan di sebuah perusahaan ternama di Kabupaten Serang, Juling turut membantu ekonomi keluarga.
Menginjak tahun kedua usia pernikahan, rumah tangga mereka semakin berwarna dengan hadirnya anak pertama. Hubungan kedua keluarga pun semakin harmonis, tak dinyana, Juling pun semakin menyayangi Kunti sang istri tercinta. Lantaran ingin mandiri, Juling memutuskan tinggal di rumah kontrakan sederhana. Sejak saat itulah tragedi dimulai.
Kunti tak menyangka, semua masa indah di awal pernikahan berubah menjadi penderitaan. Tinggal terpisah dari orangtua, Juling bebas menunjukkan sikap aslinya. Karena malas sering bangun siang setelah semalaman bermain kartu dan mabuk-mabukan, Juling kerap membolos bekerja. Apalah daya, ia pun dipecat dari tempatnya bekerja. Alih-alih mengingatkan sang suami, Kunti malah jadi bahan pelampiasan.
“Duh, Kang. Setahun lebih saya bersabar mempertahanin rumah tangga. Dia enggak bisa berubah,” kata Kunti.
Suatu ketika, Kunti menutupi wajahnya dengan kain menyerupai cadar. Hanya terlihat mata dan keningnya yang tampak malas karena belum mandi. Beberapa tetangga yang sibuk memilih sayur untuk bahan masakan, menatap sinis penasaran. Ketika ditanya, Kunti mengaku belum gosok gigi dan bau mulut.
Anehnya, Kunti yang biasanya banyak bicara dan ikut mendengar obrolan pagi bersama ibu-ibu, hari itu tampak berbeda. Hanya memesan beberapa makanan, ia buru-buru sambil mengangguk pamit. Namun ketika seorang ibu menyentuh lengan kirinya, Kunti menjerit kesakitan. Lekas ia mempercepat langkah menuju rumah.
Apa yang dialami Kunti membuat ibu-ibu semakin penasaran. Ya yang namanya tinggal di kampung, ada hal aneh sedikit, pasti langsung menyebar ke mana-mana. Dan suatu hari, seorang tetangga diam-diam datang ke rumah dan menyaksikan Kunti menangis sehabis dipukuli sang suami. Saat itu juga, bersama sang tetangga, Kunti dibawa ke rumah mertua. Sang ibu mertua sangat terpukul melihat Kunti disiksa anaknya sendiri.
Memar di bagian bibir, mata sembap karena menangis sehari semalam, menjadi bukti kisah pilu Kunti bersama sang suami. Hingga suatu hari, lantaran tak kuat menanggung sakitnya rumah tangga dengan Juling, Kunti memilih jalan perpisahan.
“Kalau saja sekarang masih sama dia, mungkin saya enggak bakal berani ceritain ini ke Kakang. Saya sering disiksa, Kang,” curhatnya.
Ya ampun, sabar ya Teh Kunti. Semoga Kang Juling dapat hidayah. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)







