Entah karena sudah tidak cinta atau memang merasa hidup mapan, setelah diangkat menjadi ASN, sikap Mimi (38) nama samaran, tak harmonis lagi pada suami, sebut saja Culay (39). Jadilah rumah tangga bak mati segan hidup tak mau.
“Ya habis gimana ya, Kang, saya merasa sudah enggak cocok lagi. Waktu itu usia saya masih 27 tahun dan Kang Culay 28 tahun,” aku Mimi kepada Radar Banten.
Apa mau dikata, profesi Culay yang hanya sebagai buruh pabrik biasa, tampaknya dianggap kurang bergengsi oleh istri. Ya sudah deh, Mimi berpikir, daripada repot ribut setiap hari, akhirnya lebih banyak diam dan seolah tak menganggap kebaradaan Culay. Duh, jahatnya.
Awalnya, Mimi yang lulusan S-1 di salah satu perguruan tinggi di Kota Serang, dipaksa menikah dengan Culay yang hanya lulusan SMA. Bukan cuma menolak karena gengsi taraf pendidikan, Mimi juga ternyata terlalu menaruh ekspektasi besar terhadap kehidupan masa depan. Ia ingin hidup penuh kemewahan, tapi hal itu tidak ia dapatkan. Berharap mendapat suami mapan, ia justru harus menjalani hari-hari keluarga kecilnya bersama Culay, lelaki sederhana yang tak biasa hidup di Kota.
Seperti diceritakan Mimi, setelah lulus kuliah, kedua orangtua memang menginginkan ia segera menikah. Dengan alasan belum siap dan masih ingin menikmati masa muda, Mimi berulang kali menolak kemauan bapak ibunya. Tapi apalah daya, ia tak bisa bertindak saat didatangi lelaki ke rumah pilihan orangtua. Aih, kok begitu sih Teh?
“Biasalah, adat orang kampung, kalau sudah mencapai usia dua puluh ke atas, harus segera dinikahkan, khawatir dibilang perawan tua,” kata Mimi.
Mimi yang saat itu belum punya pasangan alias jomblo, akhirnya dipertemukan dengan jodohnya. Lelaki gagah anak teman sang ayah. Waktu itu Culay memang sudah bekerja, ya meski masih status kontrak, setidaknya sudah punya penghasilan. Itulah yang menjadi tolok ukur sang ayah. Tidak penting latar pendidikannya apa, yang jelas ia sudah bekerja dan paham agama.
Singkat cerita, mereka pun menikah. Sebagai suami, Culay menjalani perannya dengan baik, meski harus bersabar menghadapi Mimi yang terkadang suka marah walau hanya karena kesalahan sepele, tapi mereka tetap rukun dan harmonis. Keduanya bisa menjaga perasaan satu sama lain.
Hari terus berganti, Mimi dan Culay pun sempat mengalami masa kritis perekonomian yang membuat mereka renggang. Culay yang terkadang harus menganggur beberapa bulan lantaran kontrak kerja yang habis dan menunggu lowongan pekerjaan, membuat keuangan limit. Sama halnya dengan Mimi yang waktu itu masih sebagai guru honorer, padahal sudah sejak kuliah aktif mengajar, gajinya hanya cukup untuk makan.
“Ya namanya juga nasib. Semua serbasusah, belum lagi kebutuhan lainnya seperti mikap, pulsa, bensin motor, ditambah perlengkapan bayi mereka yang baru lahir. Duh, pokoknya pusing tujuh keliling,” curhat Mimi.
Hebatnya, Meski dalam kondisi ekonomi yang sangat minim, kehadiran Culay selalu saja bisa menguatkan Mimi. Di kala sang istri mengeluh dan dalam keadaan stres berat, sang suami hadir sebagai teman curhat dan pemberi semangat. Begitu pun sebaliknya. Pokoknya, mereka berdua saling melengkapi satu sama lain. Sehingga cobaan seberat apa pun, akan dengan mudah dilewati. Ya, begitulah, harusnya Teh Mimi beruntung punya suami sesabar Kang Culay.
“Ya beruntung sih beruntung, tapi kalo sabarnya sabar enggak punya duit mah, buntung juga saya!” pungkasnya.
Di tengah perjuangan menjalani kehidupan berumah tangga, kabar baik pun datang. Ibarat pepatah habis gelap terbitlah terang, Mimi mendapat jawaban atas apa yang didambakannya selama ini. Berita ia lolos seleksi ASN pun didapatnya, akhirnya kini ia bisa bernapas lega lantaran sebentar lagi gaji per bulan tidak lagi kecil. Kebahagiaannya bertambah dengan kelahiran anak kedua, Mimi seperti menjadi wanita sempurna.
Kebahagiaan pun dirasakan Culay. Ya, meski masih menunggu panggilan pekerjaan, Culay pun tidak berleha-leha, di sela waktu senggangnya, ia masih berusaha untuk mencari nafkah dengan mengojek atau berjualan membantu usaha saudara. Beuh, hebat nih Kang Culay.
Meski begitu, katanya, sejak anak kedua lahir dan Mimi diangkat jadi ASN, aroma keretakan memang sudah tercium di antara mereka. Ya, kayak rumah tangga pada umumnyalah. Awal-awal sih emang kelihatan harmonis, tapi lama-kelamaan renggang juga. Tergantung seberapa besar cinta dan sayang keduanya, kalau cuma mengandalkan cinta tanpa rasa sayang, ya begini nih jadinya. Rumah tangga berantakan, anak yang jadi korban.
Hingga suatu hari, Mimi harus pergi ke luar kota guna mengikuti acara rapat guru selama beberapa hari. Meski awalnya ia berniat menitipkan sang buah hati pada ibu dan keluarga, tetapi akhirnya ia pusing sendiri lantaran sang anak tak mau menurut. Terlebih sang ibu yang tak bisa banyak bergerak karena usia renta, membuat mereka tak nyaman di rumah.
Mimi pun meminta tolong pada Culay. Diketuknya pintu kamar, didapatinya Culay yang baru bangun tidur. Meski awalnya ragu, karena tak ada pilihan lain, Mimi menyerahkan sang anak kepada bapaknya. Saat itu, Mimi mengaku, hubungan dengan Culay sedang renggang karena ada masalah kecil. Namun Mimi enggan menceritakan.
Singkat cerita, pergilah Mimi menempuh perjalanan jauh. Sambil menikmati ramainya kendaraan, Wajah kedua anaknya terbayang. Seolah memberi firasat tentang akan terjadi sesuatu pada kedua buah hatinya. Apa mau dikata, Mimi pun tak tenang dan tampak gelisah. Aih kenapa Teh?
“Ya saya enggak tenang gitu, Kang. Rapatnya juga jadi enggak fokus, beberapa kali ditegur kepala sekolah karena sering melamun,” curhat Mimi.
Dan akhirnya, hari yang sangat dinantikan pun tiba. Acara selesai, Mimi segera pulang. Empat jam perjalanan, membuatnya lelah dan letih. Namun hal itu tak menyurutkan rindunya pada sang buah hati. Sesampainya di rumah, Mimi di sambut anak pertamanya.
“Ade mana?” tanya Mimi.
“Ada di kamar. Sudah tiga hari sakit, Mah,” kata sang anak.
Lekas Mimi menuju kamar dan mendapati anak kesayangannya menggigil dengan wajah pucat tak berdaya. Parahnya, sang anak hanya diberi kompres dan selimut. Mimi mencari Culay yang saat itu baru pulang membawa bubur. Mimi mengamuk sejadinya.
“Kesel saya, Kang. Anak sudah parah gitu enggak dibawa ke rumah sakit. Parahnya, uang pemberian saya habis dipake buat bayar hutang,” tukas Mimi.
Dengan emosi, Mimi membawa sendiri anaknya ke rumah sakit. Beruntung, seminggu kemudian sang buah hati sembuh dan sehat seperti sediakala. Namun sejak kejadian itu, hubungan Mimi dan Culay semakin tak layak disebut suami istri. Soalnya, seolah tak menghargai suami, Mimi mulai sok berkuasa. Aih.
Akhirnya, tiga bulan berjalan, Culay memilih pisah ranjang dan tinggal bersama orangtua. Apa mau dikata, meski telah banyak kenangan indah dilewati bersama, keretakan rumah tangga tak bisa dihindari. Setelah keluar kata cerai, Culay hidup sendiri. Sedangkan Mimi asik dengan kesibukannya sebagai guru dan ibu dua anak.
Ya ampun, ya mungkin ini memang sudah jalan takdirnya. Semoga Kang Culay dan Teh Mimi selalu diberi kesehatan. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)








