SERANG – Generasi milenial paling rentan dipengaruhi konten hoax selama masa kampanye Pemilu 2019. Hal itu lantaran rentang usia 17-30 terbilang paling banyak mengonsumsi informasi di media sosial (medsos) melalui smartphone.
Hal itu terungkap dalam diskusi dan deklarasi #kampanye positif yang digelar oleh Suwaib Amirudin Foundation (SAF) di halaman kampus Untirta, Kota Serang, Kamis (27/9). Dalam diskusi tersebut dihadirkan Ketua KPU Banten Wahyul Furqon, Ketua Bawaslu Banten Didih M Sudi, serta sosiolog Untirta Suwaib Amirudin.
“Generasi milenial paling rentan bahaya hoax,” ujar Suwaib mengawali diskusi.
Menurut Suwaib, penyebaran hoax di medsos saat ini kondisinya sulit untuk dibendung oleh pihak mana pun. Terlebih, pengguna medsos di Indonesia mayoritas didominasi oleh kalangan anak muda. Kondisi ini, kata Suwaib, tentu akan banyak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab agar menguntungkan salah satu calon tertentu, salah satunya dengan menyebarkan berita bohong di medsos. “Anak muda itu kan pemilih pemula yang harus diberikan edukasi politik yang baik. Tapi, saat ini medsos yang sering digunakan sama anak muda itu informasinya banyak yang tidak bertanggung jawab. Itu tidak memberikan pendidikan politik yang baik buat mereka,” katanya.
Ia melanjutkan, saat ini negara sudah membentuk badan khusus untuk mencegah penyebaran berita hoax. Namun, dalam perjalanannya persoalan ini perlu mendapatkan perhatian dari seluruh kalangan. Termasuk, keterlibatan masyarakat di dalam penanganannya. “Memang ada UU ITE yang bisa digunakan untuk menjerat oknum yang tidak bertanggung jawab itu. Tapi, harus juga diperkuat dengan adanya keterlibatan masyarakat. Minimalnya, kita sebagai warga negara bisa saling mengingatkan jika ada berita bohong yang beredar,” ungkapnya.
Jika generasi milenial tidak kritis dalam menerima informasi di medsos, ia bisa menelan mentah-mentah hoax yang beredar. Jika tidak mendapatkan perhatian serius, persoalan ini dinilai bisa berdampak negatif bagi generasi penerus bangsa. “Pemberitaan yang salah sering kali menampilkan judul yang menggugah emosi sehingga menarik minat pembaca,” tambah Suwaib.
Ketua Bawaslu Banten Didih M Sudi mengakui merebaknya hoax di media sosial bisa menjadi ancaman serius dalam Pemilu 2019. Terutama, bagi kalangan anak muda yang seharusnya diberikan pendidikan politik yang baik untuk memilih salah satu calon. “Kita sampai saat ini memang susah mengidentifikasi penyebaran berita hoax itu apakah mereka terorganisir atau tidak, dari kelompok mana, itu kita masih susah. Soalnya, kita tidak bisa sebut kalau dia dari pihak A atau B,” katanya.
Didih melanjutkan, pemilih dari kalangan anak muda yang mayoritas mendominasi penggunaan medsos di Indonesia seharusnya bisa diberikan edukasi positif mengenai pendidikan politik dalam pemilu. Perhatian itu dilakukan agar mereka tidak melakukan hal-hal yang menjurus pada ujaran kebencian, fitnah, hingga radikalisme. “Dari segi pengalaman dan keilmuan, mereka (anak muda) juga rentan. Padahal, tidak seyogianya generasi muda itu diracuni dengan isu hoax, radikalisme, dan sebagainya. Mereka juga harus diberi perhatian,” tutur Didih.
Didih berharap, generasi muda bisa bersikap bijak dalam menggunakan medsos untuk menghindari adanya berita-berita bohong. “Itu yang harus kita perangi bersama. Penyelenggara pemilu dan peserta pemilu sudah komitmen menolak hoax,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Wahyul Furqon mengungkapkan, komitmen semua pihak mulai dari partai politik, calon anggota legislatif, maupun timses dari pasangan calon presiden dan wakil presiden pada deklarasi kampanye damai yang telah digelar pada akhir pekan kemarin, harus ditagih oleh masyarakat terkait komitmennya.
“Kita tidak memungkiri di proses pemilu akan ada persaingan. Tapi, semuanya harus menjaga komitmen agar proses pemilu bisa berjalan kondusif,” ungkapnya.
Berbagai upaya terus dilakukan KPU untuk bersama-sama menangkal hoax, salah satunya melakukan sosialisasi yang masif kepada masyarakat termasuk kepada generasi muda. “Hoax tantangan kita bersama mewujudkan Pemilu 2019 yang berintegritas, kami minta masyarakat untuk bijak di medsos,” ungkap Wahyul. (Deni S/RBG)










