CILEGON – Kota Cilegon masih kekurangan guru ASN untuk jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP). Kondisi ini memengaruhi kegiatan belajar mengajar di kelas.
Ketua PGRI Kota Cilegon Wandi Wahyudin menjelaskan, saat ini ada 2.500 guru yang berstatus aparatur sipil negara (ASN) di Kota Cilegon. Namun, angka itu masih kurang jika dilihat pada fakta-fakta di lapangan.
Wandi mengatakan, berdasarkan fakta-fakta di lapangan, sekolah-sekolah di Kota Cilegon kekurangan guru ASN. Misalnya, jumlah guru ASN tidak sesuai dengan jumlah rombongan belajar (rombel) di sekolah. Normalnya, jumlah guru sesuai dengan jumlah rombel di sekolah.
“Ada di salah satu sekolah negeri gurunya tinggal empat, sebetulnya kebutuhannya lebih dari enam guru karena rombelnya lebih dari itu. Kemudian juga ada yang lebih dari enam guru tapi rombelnya banyak. Yang paling kelihatan sekali guru mata pelajaran olahraga dan agama, itu sangat sedikit sekali,” papar Wandi, Jumat (26/10).
Untuk tingkat sekolah dasar negeri dan swasta saat ini tercatat ada 185 sekolah di Kota Cilegon, sedangkan tingkat menengah pertama negeri berkisar di 11 sekolah. Namun, selama ini kekurangan guru ASN itu menjadi tidak terlalu terlihat karena terbantu dengan keberadaan guru honorer.
Kekurangan guru itu terjadi karena guru-guru tersebut telah memasuki masa pensiun, promosi jabatan, dan mutasi. Kondisi itu tidak diimbangi dengan proses pengangkatan ASN. Untuk menyikapi itu, menurutnya, guru ASN yang berada di sekolah swasta diharapkan diberikan tugas oleh pemerintah untuk mengajar di sekolah negeri. “Seperti di daerah lain guru yang ASN yang bekerja di swasta diberi tugas di sekolah negeri, kalau seperti itu mungkin kurangnya tidak mencapai ribuan,” ujarnya.
Saat ditanya persis kekurangan guru ASN, menurut Wandi, yang memilki data di Dinas Pendidikan Kota Cilegon dan Badan Kepegawaian Pelatihan dan Pendidikan Kota Cilegon. “Kami berharap pemerintah segera mengangkat guru ASN, kedua berharap pengangkatan guru sesuai dengan keinginan yang ada seperti honorer K-2 direkrut dalam tes ini bisa terangkat,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah memberikan penghargaan yang layak kepada guru honorer yang membantu guru ASN. Saat ini, para guru honorer hanya menerima honor Rp300 ribu untuk satu bulan mengajar. “Kita selaku organisasi berterima kasih ke teman yang telah mengabdikan dirinya di pendidikan. Saya berharap pemerintah baik daerah maupun pusat mengakomodir mereka (guru honorer-red),” tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Cilegon Muhtar Gojali mengakui jika saat ini Kota Cilegon mengalami kekurangan guru. Oleh karena itu, pemerintah mencoba memberdayakan tenaga-tenaga honorer agar bisa maksimal dan menutupi kekurangan tersebut.
Menurut Muhtar, telah melakukan analisa kebutuhan guru dan data-data itu telah diserahkan ke Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kota Cilegon untuk diajukan ke BKN. Namun kondisinya, kuota yang diberikan saat seleksi calon ASN yang sedang berjalan ini tidak sesuai dengan kebutuhan. “Tapi kita tetap bersyukur ada penambahan guru, soal kuota yah kita terima saja,” ujarnya saat ditemui seusai salat Jumat di Masjid Nurul Iman, kawasan Pemkot Cilegon, kemarin. (Bayu M/RBG)









