MILAN – Radja Nainggolan memecahkan lima menit yang menegangkan. Karena Inter Milan sempat waswas kalah berpacu dengan AC Milan pada perburuan tiket lolos ke Liga Champions musim depan. Ketika rival sekotanya sudah leading 3-2 di Paolo Mazza, markas SPAL, Inter di Giuseppe Meazza, Milan, malah tertahan 1-1 begitu gelandang Empoli Hamed Junior Traore di menit ke-76 menyamakan kedudukan.
Sontekan kaki kanan Nainggolan pada menit ke-81 yang memulai pesta di Milan, malam itu. Ya, Inter mengais tiket terakhir ke Liga Champions setelah tiket ketiga digenggam Atalanta. La Dea, julukan Atalanta, melanjutkan tren kemenangannya dengan membekuk Sassuolo 3-1 di Atleti Azzurri d’Italia, Bergamo.
”Saya tidak memikirkannya (gol penentu), saya cuma menendang bola itu. Di sepak bola banyak detail yang bisa menjadi pembeda, dan kami layak lolos ke Liga Champions lagi,” ucap Nainggolan, kepada Inter TV. Bagi Nerazzurri, mereka berhasil back to back lolos ke perebutan Si Kuping Lebar, sebutan trofi Liga Champions.
Uniknya, sepanjang sejarah setelah format 20 klub Serie A, baru kali ini mereka dua kali dibuat menanti sampai giornata penutup untuk memastikan tiket lolos Liga Champions. Musim lalu, Inter menunggu laga terakhir untuk menyalip Lazio dan finis di top four. Bagi Nainggolan, dia tak pernah terputus merasakan atmosfer Liga Champions dalam tiga musim beruntun.
Semusim di AS Roma (2017 – 2018) dan dua musim bersama Inter. ”Liga Champions itu impian bagi tiap pemain sewaktu kecil. Saya senang Inter berada di sana lagi. Harusnya itu bisa dilakukan Inter setiap musim. Kini, Serie A lebih berimbang. Masih ada waktu bagi kami untuk lebih baik lagi,” tutur pemain berdarah Batak itu.
Tak cuma sekadar lolos, Samir Handanovic dkk pun ingin lebih baik dari musim lalu. Di musim lalu, Inter mentok di fase grup. Nah musim ini Inter tak lagi dianggap sebagai klub yang layak ditempatkan di pot keempat. Dalam seeding fase grup Liga Champions musim depan, tim juara musim 2009 – 2010 itu ditempatkan di pot ketiga dengan Benfica, Bayer Leverkusen, RB Leipzig, dan Valencia. ”Kami pun tak mau sekadar bisa lolos ke sana (Liga Champions),” harap Handa, sapaan akrab Handanovic, dikutip Sempreinter.
”Kami bisa saja dengan enteng bilang kalau kami dapat berada di final seperti Tottenham (Hotspur). Tetapi, mengalahkan PSV Eindhavon di Milan saja (matchday terakhir penentu lolos ke 16 besar) kami tak mampu. Itu penyesalan terbesar kami,” sambung Nainggolan. Musim itu, Inter kalah bersaing dengan Spurs dan Barcelona.
Pengalaman baru bertemu dengan klub-klub elite Eropa itu yang akan dihadapi Atalanta. Maklum ini kali pertama Atalanta lolos ke turnamen teratas Eropa dalam 111 tahun sejarah klub asuhan Gian Piero Gasperini itu. Perempat final Piala UEFA 1990 – 1991 jadi kali terakhir tensi turnamen Eropa mereka rasakan. Catat, musim itu belum ada Liga Champions.
Selama era Liga Champions, baru Atalanta debutan yang tak pernah merasakan atmosfer ajang Eropa sama sekali. Chievo dan Sampdoria yang debutan di 2006-2007 dan 2010-2011 gagal lolos dari fase kualifikasi. Padahal, kedua klub itu sempat bermain di Piala UEFA. Lantas bagaimana dengan Atalanta?
Musim depan, mereka bakal ditempatkan di pot keempat, sama dengan Inter musim lalu. Artinya, sudah pasti Papu Gomez dkk akan dihadapkan dengan klub-klub yang lebih sering ada di Liga Champions. ”Kami akan menjalaninya dengan bagus,” koar Gasperini kepada Sky Sport Italia.
Papu Gomez belum ingin memikirkan tantangan di Liga Champions musim depan. ”Bisa main di sini saja sudah jadi mimpi yang terbayarkan di usia 31 tahun saya. Kami bakal pikirkan itu setelah pesta, yang mungkin akan kami lakukan malam nanti (waktu setempat-red),” imbuh pencatat assists terbanyak Serie A itu, dikutip Tuttomercatoweb. (jpg/ibm/ags)










