Roni (34), nama samaran, tak habis pikir dengan sikap istrinya, sebut saja Tari (34) yang cemburu gara-gara Roni lebih perhatian terhadap ibunya. Merasa sakit hati, istrinya mencari pelarian dengan cara selingkuh bersama lelak lain. Ow ow ow.
Ditemui Radar Banten depan minimarket di Kecamatan Tirtayasa, Roni sedang sibuk memasak gorengan. Sambil mencicipi gorengan, Roni mengajak Radar Banten berbincang dan menceritakan keburukan watak istrinya yang harus memaksa rumah tangga mereka bubar. Peristiwa itu terjadi tujuh tahun lalu.
Diceritakan Roni, Tari adalah teman seangkatannya semasa SMA. Dulu Roni tidak terlalu memperhatikan Tari yang bermata sipit. Selain tidak saling kenal karena beda jurusan, Roni melihat sosok Tari saat itu merasa biasa-biasa saja. “Soalnya dulu saya dekat sama cewek cakep-cakep,” guyon Roni. Dasar buaya.
Sampai akhirnya, mereka dipertemukan saat acara reuni SMA. Di acara itu, Roni terpukau dengan perubahan Tari yang terlihat lebih menarik. Wajah Tari terlihat begitu cantik, bodinya juga menggoda. Lain dengan Roni yang biasa saja. Kulitnya juga hitam, hanya ditunjang postur tinggi doang. Dulu, Roni sering dicela teman-temannya dengan sebutan ‘black’. Namun, Roni yang gemar bertopi dan bercelana jeans itu, termasuk lelaki yang pandai merayu. Terbukti, Tari sampai luluh dengan rayuan gombal Roni. “Awalnya dicuekin, lama-lama dia kecantol juga,” kenang Roni bangga.
Enam bulan kemudian mereka pacaran. Waktu itu Roni bekerja sebagai karyawan di percetakan milik bibinya. Dengan modal seadanya, Roni memberanikan melamar Tari. Sayangnya, hubungan mereka tidak direstui ibunya Roni. “Ibu pengen saya nikah sama cewek dari pesantren aja,” akunya.
Meski begitu, hubungan mereka tetap berlanjut. Roni terus memaksa ibunya agar merestui pernikahannya dengan Tari. Singkat cerita, Roni akhirnya direstui dan menikah dengan pesta sederhana. Mengawali rumah tangga, Roni mengajak Tari tinggal di rumahnya bersama keluarga. Namun, selama numpang tinggal di rumah orangtua, Tari merasa sikap Roni banyak berubah, dituduh cuek dan jutek. Merasa tak nyaman. Tari memilih pulang ke rumah orangtuanya. “Tapi saya larang,” tukasnya.
Meski kesal dengan sikap Tari yang seolah tidak mengerti dan tidak menghormati orangtuanya, Roni geram. Selama tinggal bareng, Tari tak pernah akur dengan ibunya. Tentu saja, sebagai anak berbakti Roni lebih membela ibunya. Sayangnya, pembelaan Roni terhadap ibunya ditanggapi negatif oleh Tari. Sejak itu, Tari mulai berulah. Suatu hari, Tari minta dibeliin rumah baru biar tinggal terpisah dari orangtua, tetapi selalu Roni tolak. Tak kunjung dibelikan, sikap Tari makin tak karuan. Roni mencoba bersikap bijaksana meski tidak bisa menolak permintaan ibunya. “Makanya saya lebih cenderung menuruti kemauan ibu dibanding istri. Ibu gitu loh yang melahirkan kita, harusnya istri ngerti, bukannya maki-maki, cemburu enggak karuan,” keluhnya.
Dinasihati bukannya mengerti, Tari malah mengamuk dan mengajak Roni berdebat. Keributan di antara keduanya pun tak terelakkan. Sampai akhirnya, Roni mencoba meredam kemarahan Tari hingga mereka rujuk kembali. Namun, dengan satu syarat Tari dibelikan rumah baru. “Boro-boro beli rumah, buat makan aja susah,” kesalnya.
Akhirnya, permintaan Tari diabaikan Roni. Ternyata sikap cuek Roni terhadap kemauan istrinya berbuntut negatif. Diam-diam Tari berpaling dari Roni dan menjalin hubungan dengan lelaki lain di kampungnya. Sampai suatu hari Tari meminta cerai. Roni pun marah dan menanyakan alasannya. Tari pun mengakui bahwa dia sudah mempunyai calon suami baru yang siap menikahinya. “Emosi banget saya. Tapi, ya sudah, daripada dipertahanin, mending pisah,” sesalnya. Sabar Kang!
Tiga bulan pasca perceraian, Tari menikah lagi. Sementara Roni sampai sekarang masih jomblo dan fokus usaha gorengan. “Walaupun duda, sekarang hidup saya lebih bahagia dan tenang,” akunya. Masa sih, bukannya kesepian! Yassalam (mg06/zai/ags)







