Sehari Panen 2.700 Telur, Omzet per Bulan Tembus Rp30 Juta
Pandemi Covid-19 memasuki tahun kedua menggoyahkan ekonomi masyarakat. Tak sedikit perusahaan yang gulung tikar atau mengurangi karyawan akibat dihantam pandemi covid.
Nce Nurabidin – Lebak
Meski demikian, tak sedikit pula masyarakat yang mampu bertahan di tengah Covid-19 dengan berbagai macam cara kreatif. Salah satunya mantan buruh pabrik, Ernawan (39) warga Kampung Rancagawe Popojok, Desa Aweh, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak.
Agar dapat bertahan, Ernawan terpaksa banting setir menjadi peternak burung puyuh untuk menghidupi keluarga. Eman, menggeluti usaha telur puyuh setelah keluar dari pekerjaannya di sebuah pabrik di Rangkasbitung. Meski awalnya sulit, kini omzet telur puyuh miliknya mencapai Rp1 juta perhari.
“Ya, budidaya burung puyuh itu prosesnya lebih cepat menghasilkan keuntungan. Dari mulai membeli anak burung puyuh, dalam waktu 6 minggu sudah bisa panen telur. Alhamdulilah, hasil kerja keras membudidayakan burung puyuh kini dapat menghasilkan sebanyak 2.700 butir telur atau 30 kilogram telur per hari,” ujar Ernawan, kemarin.
Menurutnya, omzet yang diperolehnya bila dikalkulasikan jauh lebih baik ketimbang saat dirinya menjadi karyawan pabrik. Waktu itu seharian bekerja mendapatkan upah bulanan dibayar sesuai UMK.
“Setiap hari sudah megang uang tunai bersih ratusan ribu. Bersyukur aja, kondisi ekonomi sekalipun di masa pandemi Covid-19, namun secara perlahan mengalami peningkatan dan tidak lagi banyak berutang ke warung untuk biaya hidup sehari-hari,” katanya.
Menurut Ernawan, bertenak burung puyuh memiliki potensi besar meningkatkan kesejahteraan keluarga. Hal itu didasari dari segi pemeliharaan dan perawatan relatif mudah dan murah.
“Kemudian dari segi pemasaran juga mudah. Setiap harinya banyak menerima pesanan. Apalagi sekarang kan dibantu oleh media sosial,” ujarnya.
Selain menjual telur, ia juga menjual burung puyuh jantan dan betina yang sudah tidak produktif. Dijual untuk dikonsumsi maupun dipelihara.
“Ke depan kita juga akan menjual anakan burung puyuh. Baik buat dipelihara maupun buat diternakan lagi,” ujar Ernawan.
Dia mengatakan, cara memelihara burung puyuh agar bertelur setiap hari, cukup membersihkan kandang setiap hari, kemudian diputarkan radio atau musik. Tujuannya membuat burung puyuh supaya tenang.
“Tidak kagetan atau stres ketika mendengar bunyi keras, semisal bunyi petasan maupun petir. Kalau burung puyuh tidak tenang maka dapat menurunkan hasil produksi, setiap hari di kandang kita putarkan radio biar terbiasa dengan suara asing atau gaduh,” ujar Ernawan.
Dia mengatakan, saat membeli anakan burung puyuh pertama kalinya pada pertengahan tahun 2020 lalu sebanyak 1.000 ekor. Saat ini, jumlahnya sudah bertambah tiga kali lipat.
“Saat ini sudah ada 3.500 ekor burung puyuh. Jumlahnya terus bertambah, karena memang kita tidak hanya fokus ke telur saja, tetapi juga membudidayakan burung puyuh dengan merekrut saudara untuk ikut mengurusi, ” katanya.
Menurutnya, budidaya telur puyuh dilakukan untuk meningkatkan keuntungan usaha. Artinya tidak perlu biaya besar untuk membeli bibit.
“Kita sudah mandiri, karena kita sudah punya alat penetas telur dan juga indukannya. Untuk sekali penetasan bisa menghasilkan ribuan ekor burung puyuh,” katanya.
Adapun jumlah burung puyuh yang saat ini sudah menghasilkan telur sebanyak 3.500 ekor dan sekarang panen setiap hari.
Kini dalam sehari menghasilkan telur sebanyak 30-40 kilogram atau 2.700-3.600 butir telur. “Omzetnya Rp 900 ribu sampai Rp1,1 juta per hari atau sekitar Rp30 juta per bulan,” ujar Ernawan.
Menurutnya, para pengrajin dituntut untuk berkreativitas di tengah pandemi Covid- 19. Sehingga dapat bertahan sekaligus dapat menyalurkan hobi mereka.
“Saya hanya berharap, dalam situasi ini ide atau kreatif para pengrajin terus melakukan aktivitasnya, dengan melakukan berbagai cara untuk memasarkan dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah. Meski ada rencana bantuan dari pemerintah untuk pelaku UKM namun sejauh ini belum ada realisasinya,” katanya.
Terpisah Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Lebak Omas Irawan mengatakan, sektor UMKM juga menjadi salah satu sektor terdampak pandemi Covid- 19. Karena itu, pihaknya berharap pandemi segera berlalu. “Ya, UMKM banyak ikut terpukul. Karena sepinya orderan. Padahal sebelum pandemi UMKM di Lebak cukup menggeliat,” katanya.(*)











