SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar (MA) Provinsi Banten menggelar safari pendidikan ke 40 perguruan Mathla’ul Anwar yang ada di Banten.
Safari pendidikan yang merupakan salah satu program kerja bidang pendidikan ini menggandeng BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang. Tujuannya sebagai ajang silaturahmi, mendata dan melihat secara riil lembaga pendidikan yang dikelola oleh para perguruan Mathla’ul Anwar, dan menyosialisasikan program jaminan sosial ketenagakerjaan kepada para guru dan tenaga kependidikannya.
Mathla’ul Anwar Banten bersama BPJS Ketenagakerjaan menargetkan 1.000 guru dan pengelola perguruan Mathla’ul Anwar di Banten terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Berdasarkan evaluasi dari hasil safari pendidikan pada Jumat (30/9), sudah ada 332 guru yang terdaftar. Mereka ikut dalam program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
“Itu hasil kunjungan dari Agustus sampai September. Baru tujuh perguruan. Sementara agenda safari pendidikan ke-40 perguruan sampai Januari 2023,” kata Ketua PW Mathla’ul Anwar Banten Taufiq Rohman, Jumat (30/9).
Perguruan yang sudah dikunjungi, sebuta Taufiq, antara lain Perguruan MA Jatiuwung, Sadatani, Buaranjati, Pasir Tapos. “Perguruan Mathla’ul Anwar itu mengelola satuan pendidikan mulai dari ibtidiyah hingga aliyah atau SMA dan SMK. Jumlah guru ada yang 20 sampai 40 orang lebih,” ungkap Taufiq di kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang.
Mengenai safari pendidikan, kata Taufiq, mendapat sambutan yang luar biasa dari para perguruan. Mereka sangat antusias, menyampaikan kondisi riil dan tantangan dalam mengelolan lembahan pendidikan.
“Kami berupaya mencari solusi terbaik sesuai dengan kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar. Salah satunya mengikutsertakan guru dan pengelola dalam jaminan sosial ketenagakerjaan,” ungkap Taufiq.
Secara terpisah, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang Didin Haryono menjelaskan, pihaknya mendorong guru dan pengelola pendidikan di perguruan – perguruan Mathla’ul Anwar masuk program BPJS Ketenagakerjaan agar memiliki jaminan atau perlindungan ketika terjadi risiko kecelakaan kerja atau meninggal dunia.
“Ini ikhtiar bersama untuk memberikan perlindungan. Misalnya, kalau ada yang kecelakaan kerja dalam menjalankan tugas maka biaya perawatan di rumah sakit kita biayai sampai sembuh. Atau meninggal dunia, kita berikan santunan kematian Rp42 juta. Santunan puluhan juta sangat berat kalau perguruan yang menanggung,” kaya Didin.
Didin berharap program kerja sama dengan Mathla’ul Anwar Banten ini berjalan sesuai rencana. “Tidak hanya guru, juga orang tua siswanya. Apalagi sebagian besar berada di pelosok dan bekerja di sektor informal,” jelas Didin . *
Editor : Aas Arbi











