TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel menanggapi pemberitaan terkait seorang bocah putus sekolah bernama Muhammad Romi.
Kepala DP3AP2KB Kota Tangsel drg Khairati mengatakan, pihaknya akan menelusuri rumah Muhammad Romi untuk mengetahui secara pasti kondisi ia dan ibunya.
Sebelumnya diberitakan, demi mencukupi kebutuhan adik dan ibunya yang janda, Muhammad Romi harus keliling jualan cilok. Ia juga sudah putus sekolah sejak kelas 2 SMP.
“Kami segera telusuri rumahnya,” ujar Khairati, Rabu 21 Desember 2022. Menurut Khairati, ia sebelumnya pernah menerima laporan terkait bocah putus sekolah yang berjualan cilok. “Apakah ini kasus yang sama dulu? Oleh sebab itu kami akan telusuri dulu,” jelasnya.
Sementara itu Kabid Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak DP3AP2KB Tangsel,
Irma Safitri menambahkan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan lingkungan sekitar mencari tahu keberadaan Romi.
“Saya koordinasikan dengan sekolah tersebut,” ucapnya.
Diketahui, shari-hari Muhammad Romi menjual cilok dengan berjalan ratusan meter. Di bawah terik matahari, ia menawarkan dagangannya kepada orang yang ia temui di jalan dan ke rumah-rumah warga.
Romi mengaku satu bungkus berisikan 3 buah cilok dijual dengan harga Rp 2 ribu. Sekali berjualan membawa dua bungkus plastik berisikan puluhan cilok.
Dalam sehari berjualan, ia bisa membawa pulang uang Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Uang itu kemudian ia berikan seluruhnya kepada ibunya yang sedang mengasuh adiknya yang masih balita.
Menurutnya, cilok yang ia jual dibuat oleh ibunya. Ibunya harus menyisihkan modal Rp 100 ribu dalam setiap membuat cilok di rumah kontrakannya.
Romi mengaku masih ingin bersekolah. “Saya masih pengen sekolah lagi. Gak papa sambil jualan cilok nanti,” ujarnya ketika ditemui di Perumahan Nusa Loka, Serpong, Kota Tangsel, Selasa 20, Desember 2022.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: A Rozak











