LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Pedagang kaki lima (PKL) dan sejumlah pedagang di Pasar Rangkasbitung menolak penutupan perlintasan sebidang dekat Pasar dan Stasiun Rangkasbitung secara permanen oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak.
Aksi kedua kembali dilakukan di depan perlintasan sebidang pada, Rabu, 9 Agustus 2023.
Sebelumnya aksi pertama digelar pedagang, pada Senin (7/8) saat itu masa aksi dijanjikan solusi Terkait dengan jawaban selama dua hari terkait solusi, tak kunjung ada jawaban.
Tak kunjung mendapatkan Perwakilan pedagang di Rangkasbitung, Roni mengatakan, sambil menunggu Pemkab Lebak, seluruh pedagang bersepakat untuk menggelar aksi jilid tiga kembali pada Kamis 10 Agustus 2023.
“Apabila tidak ada jawaban yang pasti dari pihak pemerintah para pedagang akan kembali menggelar aksi unjuk rasa secara besar-besaran. Dipastikan aksi jilid ketiga bakal lebih besar daripada aksi sebelumnya,” ujarnya kepada Radar Banten usai melakukan aksi, Rabu, 9 Agustus 2023.
Roni menjelaskan, Pemkab Lebak dan DPRD Lebak cuek soal aspirasi pedagang, karena kebijakan tersebut hanya menguntungkan segelintir orang.
“Ya, kami para pedagang di sini merasa dirugikan karena kehilangan para pembeli. Sedangkan orang-orang yang memiliki kepentingan atas penutupan jalan ini bahagia di atas penderitaan para pedagang,” ujarnya.
Diugkapkannya, solusi dalam permasalahan tersebut hanya bisa diselesaikan apabila pemerintah membuka kembali akses jalan menuju pasar dan Stasiun Rangkasbitung.
“Seharusnya, sebelum penutupan ini dilakukan pemerintah harus mengkaji terlebih dahulu dampak yang berimbas kepada para pedagang. Minimal bukalah buat pejalan kaki, jangan sampai ditutup secara permanen,” ujar Roni.
Menanggapi keluhan pedagang, Asisten Daerah (Asda) I Setda Lebak, Ajis Suhendi, mengatakan, pihaknya juga ikut mendengarkan masukan dari para pedagang pascapenutupan bahwa ada penurunan kunjungan ke Pasar Rangkasbitung.
“Kita cermati dinamika yang di lapangan, termasuk juga aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui beberapa aksi. Tapi setelah kami melihat data-data yang ada, ada kekhawatiran melihat tingkat kunjungan ke pasar,” ujarnya.
Dilanjutkannya, dari data kunjungan di Pasar Rangkasbitung malah mengalami peningkatan yang cukup pesat dari biasanya.
“Tetapi kita coba simplifikasi, dari seminggu sebelum penutupan, sampai seminggu dari tanggal 1 sampai 7 Agustus ini setelah penutupan ternyata, kalau kita lihat dari data parkir itu justru mengalami kenaikan hampiri 150 persen, dari 6 ribu sampai ke 15 ribu. Kemudian data pengguna kereta api, dari data kami seminggu sebelum dan seminggu setelah, ada kenaikan sekitar 8,31 persen. Tadi Kepala Stasiun juga sudah menyampaikan,” ungkapnya.
Alasan Pemkab Lebak, melakukan penutupan secara permanen yakni melihat aspek keselamatan dan kelancaran saat pembangunan Stasiun Rangkasbitung.
“Kemudian ada aspek yang paling penting, adalah terkait dengan keselamatan terutama pada saat pelaksanaan pekerjaan dan pembangunan itu kan benar-benar aspek keselamatan harus kita prioritaskan,” ucap Ajis
Ditambahkanya, aspek keselamatan tersebut merupakan hal yang menjadi utama.
“Ada aspirasi misalnya bisa melintas, untuk orang, terus terang kita tidak bisa menjamin karena selama ini pun dengan keadaan perlintasan JPL 183 itu, langsiran juga agak terhambat, kemudian hal-hal lainnya juga yah,” ujarnya.
Reporter : Nurandi
Editor: Aas Arbi
Teg : pkl, penutupan











