SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Truk menjadi penyumbang terbesar penyebab kecelakaan di jalan tol. Sedangkan, faktor kondisi jalan dan mesin kendaraan sangat kecil menyumbang kecelakaan di jalan tol.
Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan mengatakan, adanya gap kecepatan antara yang tinggi dan rendah menjadi penyebab kecelakaan di jalan tol.
“Truk-truk yang ODOL (Over Dimensi Overload) itu tak mungkin lari dari 40 kilometer per jam. Akselarasinya lambat. Ketika berpindah jalur, maka kendaraan kecil tidak memiliki waktu reaksi yang cukup. Ini yang menyebabkan kecelakaan di tol tinggi,” terang Wildan usai kegiatan Road Safety Campaign yang dikolaborasikan dengan Customer Gathering 2023 di Rest Area KM 68 A (arah Merak), Sabtu, 30 September 2023.
Kata Wildan, kecelakaan di jalan tol bukan karena masalah kondisi jalan, seperti di Tol Cipali.
Di ruas Tol Jakarta-Cikampek (Japek), tidak ada truk, kecepatan pengendaranya rata-rata 120 kilometer. Namun, hampir tidak ada kecelakaan di sana.
“Secara geometrik, bagusan Cupali dibandingkan Cipali. Tapi kenyataannya (kecelakaan) tinggi di Cipali, karena ada truk ODOL dan mereka berpindah lajur, ini yang sering berbahaya,” tandas Wildan.
Ia mengaku, pihaknya sudah mengingatkan pengguna truk yang ODOL agar tidak mudah berpindah lajur karena akselerasinya lambat.
“Jadi butuh waktu yang lebih lama untuk berpindah lajur. Jangan berpindah lajur pada jarak yang terlalu pendek,” tegasnya.
Kata dia, jumlah kecelakaan yang disebabkan truk fatalitas 87 persen di jalan tol. Sisanya, orang mengantuk, pecah ban, dan aquaplanning.
“Jadi kita belum menemukan kecelakaan akibat faktor geometrik,” ujar Wildan.
Pria yang juga Pelaksana Tugas Ketua Sub Komite LLAJ ini mengungkapkan, pada siang hari, truk berpindah lajur. Sedangkan, saat malam hari, truk tak terlihat.
“Utamanya kendaraan kecil kehilangan waktu reaksi yang cukup untuk menghindar pada saat kendaraan truk ada di depannya,” ungkap Wildan.
Ia mengaku solusi untuk persoalan ini sangat rumit karena tidak mungkin menghilangkan ODOL dalam waktu dekat. Kedua, tidak mungkin melarang truk ODOL masuk tol.
“Yang mungkin kita lakukan adalah edukasi kepada pengemudi truk. Sekalipun ODOL jangan pindah lajur. Itu yang bisa kita lakukan sekarang sama kita pasang bumper belakang, sehingga ketika ditabrak fatalitasnya menurun tidak akan meninggal,” terangnya.
Kata dia, para sopir truk berpindah lajur bukan karena lajur lambat bukan rusak.
“Dia hanya tidak ingin ada kendaraan sama seperti dia lambatnya di depan dia. Tidak mau kesaing. Bagaimana cara mengedukasi pengendara truk. Kalau di jalan jangan balapan dengan temannya karena lambat,” tandas Wildan.
Direktur Operasi Astra Tol Tangerang-Merak, Renaldi mengatakan, Road Safety Campaign yang dikolaborasikan dengan Customer Gathering 2023 ini merupakan acara rutin untuk menekan angka kecelakaan di Tol Tangerang-Merak dan mendekatkan diri dengan pelanggan.
Saat ini, indeks kecelakaan di atas angka 4, tapi pihaknya tetap akan menekan terus angka kecelakaan karena hal itu berhubungan dengan masalah kehidupan.
Sejak awal tahun Agustus, ia mengungkapkan, jumlah kecelakaan di ruas Tol Tangerang-Merak sebanyak 307 kasus. Angka itu menurun sekira lima persen dari 2022 yang berjumlah 323 kasus.
“Sebanyak 80 persen akibat prilaku pengendara,” ungkapnya.
Kata dia, untuk meminimalisasi kecelakaan akibat truk ODOL, maka pihaknya menyediakan jembatan timbang.
Truk ODOL diminta keluar di gerbang tol terdekat. (*)
Reporter : Rostinah
Editor: Agus Priwandono











