TANGERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Sebanyak 16 orang dari Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang diajari membatik oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Belajar membatik tersebut terselenggara atas kerjasama antara Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Tangerang bersama Kecamatan Balaraja, Paguyuban Balaraja dan Pemerintah Desa Saga.
Kepala Disnaker Kabupaten Tangerang Rudi Hartono mengatakan, pihaknya tengah menyelenggarakan kegiatan kewirausahaan di bidang Barber Shop, Membatik Tradisional dan Menjahit. Dimana kegiatan kewirausahaan tersebut bertujuan agar masyarakat bisa diterapkan keahliannya saat diajarkan kewirausahaan tersebut kepada masyarakat.
Rudi juga mengatakan, kalau untuk kegiatan membatik. Hal itu merupakan pilot project dari Desa Saga, Kecamatan Balaraja.
“Dimana pada desa tersebut akan ada yang namanya kampung tematik. dan membatik adalah kegiatan yang diperuntukkan untuk warga Desa Saga,”ungkapnya, Selasa 21 November 2023.
Sementara itu, Paguyuban Balaraja Andini mengatakan, sebanyak 16 orang warga Desa Saga, Kecamatan Balaraja sudah tujuh hari di ajarkan membatik tradisional. Dimana pembatikan tersebut menggunakan canting, karena memang pembuatan batik tersebut dengan metode tradisional.
Selain itu kata Andini, terdapat 16 orang lagi juga diajarkan kegiatan menjahit batik. Dimana kegiatan menjahit ini diharapkan bisa menjadi bekal para ibu-ibu untuk bisa berwirausaha.
“Kegiatan membatik dan menjahit ini atas kerjasama antara pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Tangerang bersama Kecamatan Balaraja, Paguyuban Balaraja dan Desa Saga,”ucapnya.
Kata Andini, pembelajaran membatik ini merupakan persiapan dalam kegiatan kampung tematik yang akan ada di Desa Saga.
Mesti demikian, pembelajaran membatik ini diharapkan bisa menjadi wirausaha bagi para ibu-ibu dan bapak-bapak warga Desa Saga, dimana menghasilkan batik akan mendapatkan nilai komersial.
“Selain bisa berkarya dengan membatik, pastinya akan menjadi nilai ekonomis dengan bisa dijual produk batiknya,”pungkasnya.
Senada, Farah (43) salah seorang instruktur kegiatan membatik tersebut mengungkapkan bahwa membatik tidak semudah apa yang dibayangkan, karena membatik secara tradisional membutuhkan tahapan-tahapan pembuatan.
Dimana tahapan tersebut mulai dari menggambar atau pembuatan pola, terus ada mencanting, dan selanjutnya ada menggambar yang diakhiri dengan pixaxi warna.
“Ini kan sudah hari ketujuh, dimana para peserta alhamdulilah sudah tidak kesulitan lagi dalam membuat pola dan mencanting,”ucapnya.
Menurut Farah, para peserta membatik sudah mulai terbiasa tangannya dalam mencanting. Namun perlu diketahui bahwa mencanting memang tahapan yang dinilai tidak mudah, karena kalau tidak terbiasa pastinya akan terasa kaku.
“Pasti akan terkaget-kaget awalnya, karena media mencanting ini memang panas, jadi kalau yang belum terbiasa pasti kepanasan,”katanya.
Namun saat ini kata Farah, para peserta membatik ini sudah mulai terbiasa mencanting, karena terlihat para peserta sudah bisa mengontrol saat mencanting.
“Semoga proses belajar membatik ini bisa menjadi kesukaan bagi para peserta, karena membatik merupakan sebuah karya tangan yang elegan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Mulyadi
Editor: Agung S Pambudi











