SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Benny Setiawan, terduga bandar narkoba yang rumah digerebek petugas BNN RI beberapa hari yang lalu, disebut kerap gonta-ganti mobil mewah.
Mobil-mobil Benny tersebut kerap dibawa saat mengunjungi rumah mewahnya di Kompleks Purna Bakti, RT 14 RW 01, Lingkungan Gurugui, Kelurahan Lialang, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.
“Mobilnya bagus, enggak cuma satu, ada yang kayak Alphard dan Mazda itu, ganti-ganti kalau kesini (mobil),” ujar warga sekitar, Joko, Senin 30 September 2024.
Pasca penggerebekan oleh petugas BNN RI, mobil-mobil mewah itu kemudian dicurigai sebagai hasil dari tindak pidana pencucian uang (TPPU).
“Apa dari situ ya (hasil narkoba),” ujar Joko didampingi istrinya.
Joko mengatakan, Benny merupakan pedagang minyak curah. Lokasi penjualan minyak curah itu dilakukan di rumahnya yang lain di Taktakan.
“Rumah di sana juga gede,” ucapnya.
Joko menerangkan, dirinya baru mengetahui kedatangan petugas pada Jumat malam, 27 September 2024 lalu.
Awalnya, ia menduga petugas tersebut merupakan orang-orang kenalan Benny dan hendak mau mengadakan hajatan.
“Datang banyak mobil, saya pikir mau ada hajatan. Ramainya pada malam Jumat itu,” ungkapnya.
Diakui Joko, Benny merupakan sosok yang jarang berinteraksi dengan tetangga. Meski demikian, Benny dianggap sebagai orang yang ramah.
“Orangnya ramah kalau ngobrol, tapi jarang interaksi dengan warga,” ungkapnya.
Joko mengatakan, rumah mewah yang dibeli Benny dengan harga miliaran itu diurus oleh seorang warga. Orang tersebut bukan warga sekitar melainkan bawaan Benny.
“Ada yang biasa beresin halaman depan rumah, orang bawaan pak Benny,” ungkapnya.
Ditanya soal narkoba yang diproduksi Benny, Joko mengaku tidak mengetahuinya. Namun, dia sempat menanyakan soal produksi narkoba di depan rumahnya itu.
Menurut petugas, rumah Benny memproduksi pil PCC. Pil PCC sendiri akronim dari Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol.
Obat ini digunakan untuk obat penahan sakit dan sakit jantung. Jika disalahgunakan obat tersebut bisa menyebabkan halusinasi dan menyebabkan kematian.
“Karena saya tidak tahu saya langsung cari tahu di HP (pil PCC),” tutur Joko.
Editor: Agus Priwandono











