CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kebijakan larangan kegiatan study tour oleh sejumlah pemerintah daerah mulai berdampak pada pelaku usaha di sektor pariwisata, termasuk biro travel.
Lestari, pengusaha travel yang melayani wilayah Cilegon dan Serang, mengaku khawatir kebijakan ini akan menurunkan pendapatan usahanya.
“Sebetulnya larangan study tour dapat menurunkan pemasukan para biro travel dan wisata,” ujar Lestari saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu, 9 April 2025.
Menurutnya, kegiatan study tour selama ini menjadi salah satu sumber utama pendapatan biro perjalanan wisata, terutama dari kalangan sekolah.
Larangan study tour, kata dia, sudah mulai menimbulkan dampak meski belum terjadi secara masif di wilayah Banten.
“Pengaruh banget. Pengaruh karena omzet travel dari sekolah sebelumnya banyak ya, Kak (menyebut wartawan Radarbanten.co.id),” ungkapnya.
Ia menambahkan, belum ada tanggapan dari pengusaha travel di Kota Cilegon, namun berbagai respon sudah bermunculan di luar Cilegon dan Banten.
“Untuk saat ini sih belum ada (tanggapan atau penolakan), cuma kalau dari luar Banten sudah ada sih,” kata Lestari.
Lestari berharap, larangan ini tidak berlangsung lama, agar pelaku usaha travel dan pariwisata dapat tetap bertahan dan pulih pasca pandemi Covid-19.
“Harapannya sih, semoga larangan ini tidak berkepanjangan,” pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah daerah di Indonesia mengeluarkan surat edaran larangan study tour menyusul kecelakaan bus pariwisata yang menimpa rombongan pelajar.
Meski dimaksudkan sebagai upaya kehati-hatian, kebijakan ini memicu reaksi dari pelaku industri pariwisata yang terkena dampaknya secara langsung.
Sementara itu, orang tua siswaberharap agar kegiatan study tour tetap dilaksanakan dengan sejumlah catatan.
Uswatun Anisa, salah satu orang tua siswa yang bersekolah di salah satu sekolah swasta di Cilegon, berharap agar study tour tetap dilaksanakan karena memiliki manfaat positif.
“Harapanya agar tetap ada dan terlaksana, alasannya ya itu, untuk kenangan anak murid juga, untuk pengalaman juga, jadi tidak semua orang tua bisa mengajak anaknya jalan-jalan ke luar kota, melalui study tour ini lah kesempatannya,” ucap Anisa.
Anisa menambahkan, ada beberapa catatan yang harus dilakukan pemerintah jika memang study tour diperbolehkan. Salah satunya adalah pengawasan terhadap kualitas kendaraan atau bus.
“Yang penting diperhatikan itu busnya dan sopirnya, kebanyakan kecelakaan itu ya karena bus dan sopirnya kurang memadai, armada bus yang tidak siap itu jadi catatan,” tutup Anisa.
Editor: Agus Priwandono











