LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Barcelona kembali menegaskan dominasinya di kancah sepak bola Spanyol dengan menaklukkan rival bebuyutan, Real Madrid, 3-1 dalam laga final Copa del Rey yang berlangsung di Estadio La Cartuja, Sevilla. Gelar ini menjadi yang ke-32 bagi Blaugrana di ajang Copa del Rey, dan seperti biasa, El Clásico kembali menyajikan drama serta permainan berkelas yang tak terlupakan.
Salah satu sorotan utama di laga ini adalah penampilan gemilang Lamine Yamal. Meski masih berusia 17 tahun, ia tampil layaknya pemain senior. Bukan hanya bermain percaya diri, Yamal juga menyumbang dua assist ciamik untuk gol Pedri dan Ferran Torres. Penampilannya jelas menjadi bukti bahwa masa depan Barcelona ada di tangan yang tepat.
Secara statistik, Barcelona memang tampil mendominasi. Mereka menguasai bola hingga 60 persen, jauh di atas Madrid yang hanya 40 persen. Blaugrana juga melepaskan 22 tembakan dengan 9 di antaranya mengarah tepat ke gawang. Tak hanya itu, 670 operan berhasil mereka catatkan dengan akurasi mencapai 88 persen—bandingkan dengan Madrid yang mencatat 453 operan dan 80 persen akurasi.
Di lini belakang, duet Pau Cubarsi dan Inigo Martinez tampil solid. Mereka sukses membuat lini serang Madrid, termasuk Mbappe, tak berkutik sepanjang laga. Sementara itu, Wojciech Szczęsny kembali menunjukkan kelasnya di bawah mistar. Beberapa penyelamatan penting yang ia lakukan jadi penentu krusial yang menjaga keunggulan tim tetap aman.
Kemenangan ini bukan cuma soal menambah koleksi trofi. Lebih dari itu, ini adalah pesan tegas bahwa Barcelona siap kembali mengambil alih panggung, baik di level domestik maupun Eropa. Dengan talenta muda seperti Yamal dan Pedri yang makin bersinar, fans Barca punya banyak alasan untuk optimis.
Kini, Blaugrana masih punya ambisi lebih besar: meraih treble. Mereka masih bersaing di LaLiga dan Liga Champions, dan hasil ini jelas jadi suntikan semangat besar. Sebaliknya, Real Madrid harus cepat move on dan mempersiapkan diri menghadapi laga krusial di LaLiga, termasuk El Clásico pada Mei 2025 yang bisa jadi penentu gelar juara.
Final ini bukan hanya tentang skor. Ini tentang rivalitas yang tak pernah membosankan, tentang generasi baru yang siap mencuri perhatian, dan tentang semangat untuk terus menaklukkan panggung tertinggi.
Editor : Merwanda











