LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Siapa sangka, dari sebuah sekolah negeri di pesisir selatan Banten, tepatnya berasal dari Kecamatan Panggarangan, seorang siswi muda berhasil menembus panggung internasional yang dihadiri para pakar, guru, dan pelajar dari berbagai negara. Dialah Layla Rashida Anis, siswi SMAN 1 Bayah yang juga aktif sebagai relawan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS).
Sejak SMP, ia sudah ikut terjun sebagai anggota muda tim GMLS. Pada 28–29 Agustus 2025, Layla mendapat kehormatan tampil sebagai panelis dalam Tsunami United 2025 yang digelar IOC-UNESCO. Acara ini mempertemukan pelajar lintas negara dari kawasan Samudera Hindia untuk berbagi pengalaman kesiapsiagaan menghadapi tsunami.
Dalam sesi diskusi yang dimoderatori Emiliano Rodriguez, pakar komunikasi risiko dari Argentina, Layla menceritakan kisah keluarganya. Sang ayah mendirikan GMLS setelah sadar bahwa Desa Panggarangan termasuk dalam zona rawan megathrust Selat Sunda. Tanah keluarga mereka di Kiarapayung bahkan dijadikan markas, lengkap dengan pusat komando dan ruang pelatihan bagi warga.
“Banyak makan malam keluarga kami diisi diskusi tentang kesiapsiagaan, bukan sekadar PR sekolah,” ujar Layla dalam Bahasa Inggris sambil tersenyum, Kamis 28 Agustus 2025.

Kesadaran yang Lahir dari Sekolah
Layla juga mengungkapkan kegelisahannya sebagai pelajar di SMAN 1 Bayah. Sekolah yang berdiri hanya beberapa ratus meter dari garis pantai itu berada di zona rendaman tsunami.
“Kalau gempa besar terjadi, sekolah kami bisa saja tenggelam,” kata grand finalis Saija Adinda 2025 ini.
Dari situlah ia bersama teman-teman mulai mendorong perubahan. Mereka menggambar peta evakuasi, menempelkan papan informasi, hingga mengadakan simulasi bersama guru dan GMLS. Pengalaman drill membuatnya sadar, tanpa latihan jelas, siswa bisa panik dan bingung, dan kebingungan itu bisa berakibat fatal.
Pesan dari Pesisir untuk Dunia
Dalam forum UNESCO itu, Layla menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai pusat budaya kesiapsiagaan. Meski tsunami jarang terjadi, bahkan di Lebak Selatan terakhir kali tercatat lebih dari 300 tahun lalu, risiko tidak mengenal ingatan manusia.
“Risiko mengikuti geologi, bukan memori,” tegasnya.
Baginya, langkah sederhana seperti latihan 15 menit sebulan sekali, mencetak peta jalur evakuasi, atau membuat sistem teman sebaya, sudah bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Kehadiran Layla sebagai panelis internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Lebak. Dari pelosok selatan Banten, suara seorang siswi SMA menggema di forum dunia, menyampaikan pesan kesiapsiagaan dan kepedulian.
Kisah ini mengingatkan bahwa asal-usul dari desa atau kota kecil tidak menjadi penghalang untuk berprestasi. Dengan kerja keras, kepedulian, dan semangat belajar, kesempatan akan datang untuk tampil membanggakan bangsa.
Editor: Mastur Huda











