SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Puluhan Warga asal Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang menggelar aksi unjukrasa di Jalan Raya Bojonegara-Puloampel, tepatnya di pertigaan Wadas, Desa Bojonegara.
Mereka menuntut agar jalan raya Bojonegara-Puloampel bisa lancar seperti biasa dan tidak membahayakan masyarakat. Pasalnya, jalur yang dilintasi oleh kendaraan tambang bersatu dengan jalan akses masyarakat.
Dalam aksinya, mereka menutup dan memblokade jalan raya Bojonegara-Puloampel hingga membuat arus lalu lintas di dua lajur lumpuh total.
Herman, salah satu peserta aksi, mengungkapkan, aksi yang dilakukan warga Bojonegara sebagai bentuk keresahan mereka karena banyaknya truk tambang yang melintas di jalur tersebut, khususnya saat masuknya kendaraan tambang dari Kabupaten Bogor.
Mereka menuntut agar pemerintah daerah memperhatikan nasib masyarakat Bojonegara yang aktifitasnya terganggu bahkan harus bertaruh nyawa akibat banyaknya truk tambang yang melintas.
“Yang saya khawatirkan adalah lakalantas, hingga menyebabkan terjadi korban jiwa. Yang kedua, ibu-ibu yang mau ke pasar maupun mengantar ke sekolah sudah khawatir, karena banyaknya truk tambang. Makanya kami mengadakan aksi ini. Kami memohon terhadap pemerintah Kabupaten Serang hadirlah di masyarakat,” ujarnya.
Mereka mengungkapkan, ketika terjadi kepadatan lalu lintas, menghambat juga kendaraan ambulans yang mengangkut pasien rujukan dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah. “Ada rujukan dari puskesmas, ada rujukan dari Puskesmas untuk ke Cilegon. Ketika sudah macet tidak bisa lewat sama sekali,” ungkapnya.
Untuk itu, mereka juga mengkritisi soal kondisi jalan nasional Bojonegara-Puloampel yang dinilai kurang baik. Dimana kondisi jalan nasional yang sangat kecil yakni hanya satu ruas jalan. Padahal arus lalu lintas di jalur tersebut sangat padat dan dilalui juga oleh banyak kendaraan tambang.
“Selain itu, PJU juga sangat minim sehingga kondisi jalan sangat gelap ketika dilalui malam hari. Kami ini ada di zona industri, makanya kami ingin agar jalan raya Bojonegara-Puloampel diperlebar menjadi dua jalan empat lajur,” ujarnya.
Ia mengaku, semenjak adanya pengaturan jam operasional, volume kendaraan tambang di jam-jam tertentu sudah mulai terurai. Namun masih ada beberapa kendaraan tambang yang yang masih nakal. “Masih ada kadang satu dua yang melintas di luar jam operasional,” ujarnya.
Ia pun mengkritisi soal penerapan jam operasional yang dilakukan hanya pada saat jam sibuk pagi dan sore hari. Padahal aktifitas warga juga cukup padat pada siang dan sore hingga malam. “Kami inginnya dari jam 5 pagi sampai jam 21.00 kendaraan tambang tidak melintas,” ujarnya
Editor: Mastur Huda











