LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Subrata atau yang akrab disapa Mang Ato, perajin kolang-kaling di Kampung Cibulung, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, mengaku kesulitan memperoleh bahan baku buah aren.
Puluhan tahun menekuni usaha kolang-kaling, Mang Ato kini menghadapi tantangan berat akibat kelangkaan bahan baku. Padahal, setiap bulan Ramadan permintaan kolang-kaling biasanya meningkat signifikan.
“Saat ini lagi susah. Buahnya enggak ada. Cari ke mana-mana susah. Kadang harus menunggu lama sampai bahan baku tersedia baru bisa produksi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan harga bahan baku aren saat ini cukup mahal, berkisar antara Rp100.000 hingga Rp400.000 per batang, tergantung kualitas dan ketersediaan.
Kelangkaan tersebut berdampak langsung pada harga jual kolang-kaling di tingkat perajin. Jika tahun lalu harga jual berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp12.000 sampai Rp14.000 per kilogram.
“Sekarang barangnya kosong, jadi harganya naik,” ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Mang Ato biasanya membeli buah aren dari warga yang mencarinya di hutan sekitar. Namun, tahun ini pasokan sulit diperoleh karena pohon aren belum memasuki masa panen.
“Kalau sekarang, kalau ada ya bersyukur. Kalau enggak ada, ya harus disyukuri saja, mungkin belum rezekinya,” katanya.
Mang Ato berharap pasokan buah aren segera kembali normal agar usahanya tetap bertahan di tengah meningkatnya permintaan selama Ramadan.
Reporter: Nurandi











