JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah mewaspadai dampak penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, meski jalur strategis tersebut terganggu, pasokan energi nasional dalam kondisi terkendali.
“Hari ini saya didampingi oleh Pak Satya, anggota DEN, dan Pak Wamen. Kami baru selesai melakukan rapat DEN khusus membahas tentang dinamika global yang terkait dengan energi,” ujar Bahlil usai rapat Dewan Energi Nasional (DEN), Selasa (3/3).
Menurut Bahlil, rapat tersebut berlangsung selama dua jam dan menjadi rapat perdana DEN atas arahan Presiden untuk merespons cepat perkembangan geopolitik global. Salah satu isu utama yang dibahas adalah penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
“Teman-teman semua kita tahu bahwa Selat Hormuz sekarang lagi ditutup akibat dinamika perang antara Israel, Amerika, dan Iran. Dan ini dampaknya tidak hanya pada dampak perang tapi juga berdampak pada energi global,” katanya.
Ia menjelaskan, sekitar 20,1 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Angka tersebut menjadikan kawasan itu sebagai chokepoint paling strategis dalam perdagangan energi dunia.
“Di Selat Hormuz itu melewati kurang lebih sekitar 20,1 juta barrel per day. Jadi Selat Hormuz itu supply global itu 20,1 juta barrel per day,” tegas Bahlil.
Meski demikian, Bahlil memastikan ketergantungan Indonesia terhadap jalur tersebut relatif terbatas. Dari hasil pendalaman dalam rapat, impor minyak mentah (crude) Indonesia dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz hanya sekitar 20–25 persen dari total impor nasional.
“Namun dengan berbagai macam dinamika yang ada Alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil,” jelasnya.
Diversifikasi sumber pasokan tersebut dinilai menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak global. Pemerintah, lanjut Bahlil, akan terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga energi domestik.
Dengan komposisi impor yang tersebar dari berbagai kawasan, pemerintah optimistis dampak langsung penutupan Selat Hormuz terhadap ketersediaan energi nasional dapat diminimalkan, meski risiko kenaikan harga global tetap menjadi perhatian serius.
Reporter : Nungki Kartika Sari (Disway)











