CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, masih mengalami kekurangan ruang kelas akibat meningkatnya jumlah penduduk dan mobilitas siswa.
Kondisi tersebut membuat beberapa sekolah terpaksa menerapkan sistem pembelajaran bergantian pagi dan siang untuk menampung seluruh peserta didik.
Kepala SD Negeri Gerem 1 Kota Cilegon, Yunus, mengatakan bahwa persoalan kekurangan ruang kelas mulai dirasakan dalam dua tahun terakhir.
“Kalau kondisi kekurangan ruang kelas ini memang baru terasa sekitar dua tahun terakhir karena perkembangan penduduk di Grogol. Banyak industri sehingga banyak pendatang, ditambah mobilitas siswa juga cukup tinggi,” katanya saat ditemui usai Kegiatan Pendampingan Penganggaran SPM Pendidikan oleh BPMP Banten di Aula Setda Kota Cilegon, Rabu, 24 Juni 2026..
Menurut Yunus, secara umum kondisi bangunan sekolah dan ruang belajar yang ada masih dalam kondisi baik.
Namun, jumlah ruang kelas yang tersedia belum mampu mengimbangi peningkatan jumlah peserta didik setiap tahunnya.
“Kalau kondisi kelas sebenarnya bagus, tidak ada masalah. Yang menjadi persoalan itu kekurangan ruang kelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat 14 SD negeri dan satu SD swasta di Kecamatan Grogol.
Beberapa sekolah telah mengusulkan pembangunan ruang kelas baru untuk mengatasi keterbatasan daya tampung siswa.
Yunus mengungkapkan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan sebelumnya pernah menawarkan program pembangunan ruang kelas baru.
Namun, keterbatasan lahan yang dimiliki sekolah menjadi salah satu kendala dalam realisasinya.
“Pernah ada program ruang kelas baru dari kementerian, tetapi terkendala ketersediaan lahan. Saya sendiri sudah mengajukan sejak tahun 2024, mungkin karena keterbatasan anggaran sehingga belum terealisasi,” jelasnya.
Menurutnya, usulan pembangunan ruang kelas baru kembali masuk dalam perencanaan anggaran pada tahun 2026.
Beberapa sekolah yang masuk daftar usulan, di antaranya, SD Negeri Gerem 1, SD Negeri Ciore, dan SD Negeri Grogol 2.
“Di tahun 2026 ini informasinya sudah masuk penganggaran, tetapi belum terealisasi. Ada beberapa sekolah yang menjadi prioritas untuk mendapatkan tambahan ruang kelas,” katanya.
Selama menunggu pembangunan ruang kelas baru, sejumlah sekolah masih menerapkan sistem pembelajaran bergantian untuk kelas-kelas tertentu.
Kebijakan tersebut dilakukan agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti proses belajar mengajar secara optimal.
“Kami terpaksa menerapkan pembelajaran pagi dan siang untuk kelas bawah. Proses survei dan verifikasi juga sudah dilakukan, sehingga mudah-mudahan pembangunan ruang kelas baru bisa segera terealisasi,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











