SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Kali ini, UNTIRTA memberikan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kepada pelaku UMKM bengkel kendaraan listrik sebagai langkah awal membangun budaya kerja yang aman sebelum memasuki tahapan teknis perakitan battery pack kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Kegiatan yang berlangsung di UMKM Oasis Teknik Electric Vehicle, Kampung Kubang Kemiri, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Serang, Kota Serang, Kamis, 23 Juli 2026, tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM).
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNTIRTA, Rusdi Febriyanto, mengatakan pelatihan K3 sengaja dijadikan tahapan awal karena keselamatan kerja merupakan fondasi utama sebelum peserta memperoleh kompetensi teknis dalam proses pra-produksi battery pack kendaraan listrik.
Menurutnya, industri kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami pengelolaan risiko kerja.
“Perkembangan industri kendaraan listrik harus diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang memahami aspek keselamatan kerja. Karena itu, pelatihan K3 menjadi tahap awal agar peserta memiliki kemampuan mengidentifikasi bahaya, mengendalikan risiko, dan menerapkan prosedur kerja yang aman sebelum mempelajari proses teknis pra-produksi battery pack,” ujar Rusdi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Sabtu, 25 Juli 2026.
Rusdi berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat meningkatkan daya saing UMKM mitra sekaligus memperkuat budaya keselamatan kerja sebagai fondasi pengembangan industri kendaraan listrik yang aman, produktif, dan berkelanjutan di Provinsi Banten maupun Indonesia.
Materi pelatihan disampaikan oleh Dwi Widyawati bersama Devina Hermawati. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai karakteristik baterai lithium-ion, potensi bahaya thermal runaway, metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC), penerapan hierarki pengendalian risiko, penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur kerja aman, teknik penyimpanan baterai, hingga penanganan keadaan darurat apabila terjadi kebakaran baterai.
Selama pelatihan berlangsung, peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang sering ditemui di lapangan, mulai dari penanganan baterai rusak, risiko hubungan arus pendek (short circuit), overcharge, hingga pentingnya pemeriksaan kondisi baterai sebelum dilakukan proses perawatan maupun perakitan.
Pemilik UMKM Oasis Teknik Electric Vehicle, Ibrahim Jaya Sasmita, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut karena dinilai menjawab kebutuhan pelaku usaha kendaraan listrik yang saat ini berkembang pesat.
Menurutnya, meningkatnya permintaan layanan perawatan, perbaikan, dan perakitan kendaraan listrik belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
“Permintaan terhadap layanan kendaraan listrik terus meningkat sehingga menjadi peluang besar bagi UMKM. Namun, kami masih membutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang menguasai teknologi kendaraan listrik, mulai dari perakitan battery pack, cell balancing, pengujian sistem baterai, hingga penerapan keselamatan kerja. Kami berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha terus diperkuat agar mampu melahirkan SDM yang siap mendukung perkembangan industri kendaraan listrik,” kata Ibrahim.
Program pemberdayaan tersebut akan berlanjut pada pelatihan kompetensi teknis pra-produksi battery pack, penguatan manajemen usaha, implementasi teknologi pendukung, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) bengkel.*
Editor : Krisna Widi Aria











