PAKUHAJI – Jalur Pantai Utara (Pantura) di pesisir Kabupaten Tangerang makin mengkhawatirkan. Ombak perairan Laut Jawa yang semakin ganas menyebabkan lahan penduduk terus berkurang dan areal tambak menyusut mencapai 170 hektare.
Abrasi terparah terjadi di Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji. Ombak menerjang lahan penduduk mencapai 130,07 meter dari bibir pantai. Tercatat dua dekade terakhir, daratan di wiliayah ini menyusut hingga 579 hektar. Selain itu, jalan penghubung utama yang dibangun Pemprov Banten ada yang jebol dihantam gelombang sehingga pengemudi kendaraan harus mencari jalur alternatif untuk melintas.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Perikanan dan Kelautan Dinas Kelautan dan perikanan (DKP) Haerul Latif menjelaskan, abrasi ini menimpa di garis pantai sepanjang 51,2 km itu. ”Di pesisir Desa Kohod abrasi mencapai 130 meter per tahunnya,” katanya kepada Harian Radar Banten, Minggu (27/3/2016).
Akibatnya, masyarakat juga yang paling menderita akibat fenomena alam ini. Selain kerugian secara ekonomi, kerugian sosial juga timbul akibat hilangnya daratan tersebut. ”Dampaknya multiplayer effect ujung-ujungnya bisa ke arah gangguan sosial,” katanya.
Dijelaskan dia, solusi yang paling hebat menangkis laju abrasi, DKP tengah melakukan pemetaan dan identifikasi untuk menentukan jenis, kerapatan, luasan tutupan mangrove dan laju abrasi. ”Kita masih melakukan rehabilitasi dan pemanfaatan mangrove, kami juga dibantu oleh CSR dari sejumlah perusahaan,” terangnya.
Kata dia, abrasi ini diakibatkan hilangnya pohon bakau (Rhizopora sp.) dan apiapi (Avicennia sp) yang seharusnya sebagai alat pemecah ombak. ”Untuk penanganan kerusakan jalan kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga. Kerusakan jalan akibat abrasi pantai ini perlu segera dilakukan, karena kalau sampai teputus masyarakat Pantura harus mengambil jalan memutar,” jelasnya. (RB/mg-20)








