TANARA – Sungai Cidurian di Kecamatan Tanara harus dinormalisasi. Sebab, saat ini sungai tersebut dangkal dan dikeluhkan banyak warga, Akibat dangkal, permukiman yang berdekatan langsung dengan aliran sungai menjadi langganan banjir saat musim penghujan.
Camat Tanara, Eri Suhaeri mengatakan, akibat sungai yang dangkal, setiap tahun kurang lebih 500 rumah di wilayah kerjanya terendam banjir. “Khususnya Desa Tanara banjir. Lebih parah, banjir melanda saat musim hujan datang,” ujar Eri kepada Radar Banten, Senin (11/7).
Eri menuturkan, saat banjir melanda sebagian warga terpaksa harus diungsikan. Itu terjadi lantaran banjir bisa sampai dua meter. Sehingga, rumah yang terkena banjir pun tidak lagi bisa digunakan. “Sungai harus secepatnya dinormalisasi, saat hujan datang warga yang menjadi langganan banjir merasa khawatir,” ujarnya.
Eri mengaku, sudah mengusulkan normalisasi sungai tersebut ke Pemkab Serang melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) untuk kemudian disampaikan pada pihak Balai Besar Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian yang berkewajiban memperbaiki saluran sungai tersebut. “Selama ini keluhan sungai dangkal selalu disampaikan saat ada forum di desa dan kecamatan,” katanya.
Eri berharap, usulan yang sudah disampaikan bisa ditindaklanjuti pihak Balai Besar atau yang berwenang melakukan normalisasi. Sehingga, keberadaan sungai tidak lagi menyebabkan sebagian daerah Kecamatan Tanara banjir. “Sungai Cidurian dibutuhkan masyarakat, tapi saat banjir justru menjadi sumber masalah. Solusi tidak lain adalah harus dilakukan normalisasi,” katanya.
Muhaemin, warga Desa Tanara, yang rumahnya menjadi langganan banjir menjelaskan, Sungai Cidurian mengalir dari wilayah Tangerang. Banjir pun datang saat hujan kecil datang. “Saat hujan tidak deras juga banjir tetap terjadi, sebab air mengalir dari Tangerang,” katanya. (Irfan M/Radar Banten)








