SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Radar Banten berencana akan melaksanakan seminar air yang mengusung tema alternatif air bawah tanah: solusi konservasi untuk air generasi maju.
Seminar tersebut dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat dan pelaku industri untuk beralih ke sumber air yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Diketahui, air bawah tanah merupakan bagian penting dari siklus hidrologi dan menjadi sumber air baku bagi kebutuhan domestik, industri, dan pertanian di banyak wilayah di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Serang.
Pimpinan Redaksi Radar Banten, Aditya Ramadhan, mengatakan Kabupaten Serang terutama wilayah Serang Timur, merupakan wilayah yang memiliki potensi ekonomi yang beragam, mulai dari sektor industri hingga pertanian.
“Hal ini patut menjadi perhatian Bersama terkait pemanfaatan air bawah tanah di wilayah tersebut,” katanya, Senin 27 April 2026.
Menurutnya, apabila pemanfaatan air bawah tanah tidak terkontrol dengan baik, maka akan berpotensi menyebabkan dampak lingkungan yang serius, seperti penurunan muka tanah (land subsidence), intrusi air laut, dan menurunnya kualitas sumber air itu sendiri.
“Salah satu contohnya, berdasarkan pemantauan di wilayah urban seperti Jakarta, laju penurunan muka tanah berkisar antara 0,04–6,30 cm per tahun akibat ekstraksi air bawah tanah berlebihan. Dampak tersebut menimbulkan ancaman nyata bagi infrastruktur kota, kualitas air, dan risiko sosial bagi penduduk yang bergantung pada sumber air ini,” ujarnya.
Diketahui, penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) telah diatur dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa penggunaan ABT harus seizin Kementerian ESDM, tidak bisa dilakukan secara sembarang.
Diharapkan, dengan pelaksanaan kegiatan tersebut, para peserta bisa mendapatkan pemahaman ilmiah dan kritis bagi peserta tentang risiko penggunaan air bawah tanah secara berlebihan.
“Lalu, meningkatkan kesadaran publik dan pemangku kebijakan tentang pentingnya pengelolaan air tanah yang berkelanjuta serta mendorong terjadinya dialog antar stakeholder (pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pelaku usaha) untuk mencari solusi konkret,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











