BOSAN lari di lapangan atau pinggir jalan? Yuk, cobain trail running! Yap, jenis olahraga satu itu cukup seru loh karena dilakukan di alam terbuka. Lari yang bukan cuma olahraga, tapi juga bisa jadi penyegaran buat mata. Bahkan, 43 persen Zetizen pernah nyobain trail running loh.
Trail running atau biasa disebut mountain running emang bisa dibilang merupakan perpaduan antara olahraga lari (running) dan mendaki (hiking). Banyak banget tempat yang bisa dijadikan trek untuk trail running. Lintasan yang paling cocok adalah lintasan yang memiliki kontur nggak datar alias naik turun. Umumnya nih, trail running dilakukan di pegunungan. Misalnya, yang dilakukan 37 persen Zetizen.
Selain itu, hutan, pantai, bahkan areal persawahan bisa jadi pilihan. Tapi, di beberapa daerah tertentu, kondisi alam terbukanya bisa jadi menawarkan medan yang berbeda-beda. Misalnya, gurun pasir, pantai, atau bahkan padang es. Quite challenging, right?
Talking about history, trail running ini sebenarnya ada sejak zaman prasejarah. Manusia pada masa itu udah sering banget berlarian di alam terbuka seperti hutan dan pegunungan buat memenuhi kebutuhan. Hingga pada 1040-an, mulai tercatat hill race pertama yang diselenggarakan di Skotlandia. Baru deh pada 1840 trail running dikenal secara modern di Inggris. Saat itu olahraga tersebut dikenal sebagai sebuah outdoor games yang dinamakan hare and hounds. Di situ mulai ada sistem peraturan seperti penghitungan waktu dan jarak lari untuk menentukan pemenang.
Di Indonesia, trail running ternyata udah cukup populer. Sejak 2011, banyak bermunculan komunitas pencinta trail running di berbagai daerah. Salah satunya adalah komunitas Trail Runner Pekanbaru (TRU). Menurut anggota TRU sekaligus Ketua Riau TrailRun Race 2016 dr Erick Caesarrani A. SpOG MKes, antusiasme masyarakat pada olahraga itu terbilang besar dan menjangkau berbagai kalangan.
’’Di TRU, sampai sekarang udah ada sekitar 230 anggota. Ada pekerja, mahasiswa, bahkan ada yang masih pelajar,’’ jelas Erick.
Salah seorang Zetizen, Fahrur Irzan, 19, juga udah pernah nyobain trail running nih. Cowok asal Wonosobo, Jawa Tengah, itu mengenal dan mencoba olahraga trail running sejak 2015. Udah beberapa gunung di Jawa Tengah pernah dia jelajahi sambil lari. Misalnya, Gunung Prau, Gunung Ungaran, dan Gunung Telomoyo. Menurut Fahrur, trail running menawarkan sensasi berlari yang asyik dan cukup ekstrem.
’’Trail running ini sedikit ekstrem dan menantang. Banyak risikonya. Salah sedikit, kita bisa tersesat atau malah jatuh ke jurang. Jadi, kita harus hati-hati dan tetap konsentrasi,’’ tuturnya.
Gimana udah mulai tertarik buat nyobain trail running? Tenang, di Indonesia banyak kompetisi trail running bergengsi yang bisa kamu ikuti kok. Misalnya, Mount Rinjani Ultra Trail Run, Mesastila Peak Challenge, Ijen Crater Ultra Trail Run, atau Riau TrailRun Race.
Menurut Erick, olahraga itu emang cocok banget dengan kondisi alam Indonesia. Makanya, trail running harus banget nih dicoba!
’’Indonesia kan punya bentang alam yang indah, jadi cocok banget deh buat dijelajahi sambil berolahraga. Dijamin akan dimanjakan suasana pengembaraan yang nggak bakal membosankan,’’ kata Erick.
Lari, Lari, dan Lari
Olahraga yang paling mudah dan gampang dilakukan adalah lari. Yap, lari adalah olahraga yang paling murah dan simpel. Siapa saja bisa melakukannya, baik di lapangan lari, di jalan, di taman, atau di tempat lain yang memungkinkan untuk lari.
Nah buat kalian yang sudah jenuh dengan lari di jalan raya, kalian bisa coba trail running loh. Selain sehat, kamu pasti bakal merasakan sensasi berbeda saat berlari. Karena medan trail running ini biasa dilakukan di lintasan menantang seperti bukit, pantai, atau perkebunan dengan berbagai rintangan.
Soal trail running ini, Aditya Suherman, siswa SMPN 14 Kota Serang bilang, olahraga ini cocok banget dilakukan oleh Gen Z yang ingin merasakan sensasi baru saat berolahraga dan menguji adrenalin. “Karena selain olahraga, kita juga bisa menikmati pemandangan indah dan segarnya udara alam tanpa polusi. Tapi dengan berbagai tantangannya, sebelum nyoba trail running, pastikan punya stamina yang cukup dan melakukan peregangan otot yang tepat untuk menghindari cedera saat berlari,” kata Gen Z yang hobi olahraga futsal.
Bagi Gen Z yang terbiasa lari di lintasan umum, trail running tentu jadi olahraga yang ekstrem. Oleh karena itu, Muhammad Azka Khowaijmi, siswa SMAN 3 Kota Serang ini menyarankan, pelari harus memiliki persiapan yang matang sebelum nyoba trail running untuk menghindari risiko cidera. “Namanya juga lari lintas alam, tentu lintasannya pun berbeda dengan jalan aspal. Jadi perlu persiapan yang matang, seperti memproyeksikan rute lintasan, sedia air minum, dan perlengkapan mendukung lain,” saran pehobi futsal ini.
Meski banyak tantangan dan berisiko, lari lintas alam ini menyuguhkan sensasi berbeda dari lintasan aspal. Hutan, perbukitan, dan pantai, tentu menawarkan pemandangan alam yang memanjakan mata. Dan yang pasti, kita dapat menikmati oksigen segar dari alamnya. Penasaran dengan sensasi trail running? (wivy-zetizen/nrm/zee)









