Calon wakil gubernur Embay Mulya Syarief mengunjungi Redaksi Radar Banten di gedung Graha Pena, Rabu (9/11). Tidak seperti biasanya, Embay yang maju mendampingi calon gubernur Rano Karno hadir tanpa pengawalan tim suksesnya.
Kehadiran Embay disambut General Manager Radar Banten Mashudi didampingi Redaktur Pelaksana Ahmad Lutfi, Kepala Biro Tangerang Delfion Syaputra, dan Redaktur Aditya Ramadhan.
Perbincangan yang berjalan satu jam itu, berlangsung santai. Sesekali diselingi celetukan canda yang mengundang tawa. Pada kesempatan tersebut, Mashudi menanyakan niatan Embay maju mendampingi Rano di pesta demokrasi lima tahunan di Banten ini.
Embay yang mengenakan kemeja dan peci hitam menjawab dengan santai alasan memantapkan diri maju sebagai calon orang nomor dua di Banten mendampingi Rano. Ia mengatakan, sejak awal Provinsi Banten berdiri tidak ada niatan untuk maju. Namun, ada desakan dari guru, sahabat, dan masyarakat akhirnya ia membuat keputusan penting tersebut. “Saya sudah lama ditawarin untuk menjadi gubernur, tapi saya tolak karena saya berhusnuzan Banten bisa diperbaiki. Tapi ternyata tidak, Banten malah menjadi provinsi terkorup ketiga,” ujarnya.
Kata Embay, atas saran gurunya dirinya diminta jangan hanya di belakang saja, tetapi harus muncul ke depan. “Jangan membentuknya (membentuk provinsi Banten-red) bisa, tapi mengurusnya tidak mau. Makanya, saya putuskan maju,” sambung Embay.
Tokoh pendiri Provinsi Banten ini mengaku, sempat menepi ke kampung halaman. “Saya pernah dipanggil guru-guru saya ketika saya uzlah, menyendiri di Ciomas. Setahun saya hilang. Terus saya dibilang, ‘Pak Haji, tidak ada nabi yang menepi. Nabi itu berjuang di tengah umat. Sudah balik lagi ke Serang atau Cilegon, bangun masyarakat.’ Inilah sebagai tanggung jawab saya,” kata Embay menirukan perkataan gurunya yang tidak ia sebutkan.
Embay tidak menampik, awalnya mendorong sahabatnya, Taufik Nuriman, untuk mendampingi Rano. Namun karena ada persoalan yang tidak bisa dipasangkan, akhirnya justru ia yang dipinang. “Ini keputusan yang memang cukup cepat. Tapi, Pak Taufik sudah bicara, malah dia support dan membangun relawan dan kita tetap jalan. Malahan Pak Taufik ikut mendampingi saya keliling,” katanya.
Selain itu, kesediaannya maju mendampingi Rano yang diusung koalisi PDIP, PPP, dan NasDem tidak lepas dari kepemimpinan Rano yang berhasil dan punya komitmen pemberantasan korupsi. “Pak Rano itu baru memimpin Banten satu tahun lebih sedikit, tapi ada beberapa yang ia perbaiki. Ini juga kenapa saya mau. Kami sudah punya komitmen untuk saling mengisi dalam bekerja jika mendapat amanah ini,” kata Embay.
Di awal keputusannya masuk dalam gelanggang politik, tidak sedikit orang yang mempertanyakannya. Namun, setelah diberi penjelasan, akhirnya bisa menerima dan mendukung secara bulat. “Makanya, Taufiqurrachman Ruki, pernah bikin tulisan ngenes, Embay sudah mengorbankan prinsip hidupnya untuk masyarakat,” ujarnya menirukan petikan tulisan mantan Ketua KPK asal Banten itu.
“Lagi pula mau cari apa, umur sudah bakda ashar wama magrib. Mau cari apa? Cari kehidupan saya sudah cukup. Mestinya, saya sudah waktunya bersih-bersih. Jadi, ini memang tanggung jawab saya,” sambung Embay. (Supri/Radar Banten)









