Awal Januari lalu, publik dikagetkan dengan pemberitaan soal keluarga Suyitno yang tinggal di kandang ayam. Keluarga asal Kampung Cinumpi, Desa Cilangkap, Kecamatan Kalanganyar, itu tidak lagi menempati kandang ayam. Mereka sudah menempati sebuah rumah, tapi tidak layak huni. Pembangunannya terhenti akibat perhatian Pemkab Lebak kepada keluarga miskin itu tidak terwujud.
Baca juga: Penderitaan Suyitno dan Keluarganya Tinggal di Kandang Ayam
MASTUR – Kalanganyar
Sekira pukul 14.00 WIB kemarin (15/4/2016), saya melintas di Kampung Cinumpi. Suasananya cukup sepi. Mayoritas warga Kampung Cinumpi beraktivitas di dalam rumah.
Di salah satu sudut kampung, beberapa ibu rumah tangga berkumpul dan mengobrol. Salah satunya, Siti Khodijah, istri Suyitno.
Siti Khodijah kemudian mengajak saya untuk mampir ke rumahnya. Keluarga ini tidak lagi menempati kandang ayam. Mereka telah menempati rumah berukuran 5×9 meter, tetapi kondisinya memprihatinkan.
Bagian depannya belum ditutup bilik, lantainya masih tanah, dan atapnya belum berplafon. Daun jendela dan pintu pada rumah keluarga miskin ini juga tidak ada. Rumah ini kosong melompong, karena Suyitno belum memindahkan perabotan rumah tangganya dari kandang ayam, beberapa meter dari rumah itu.
Siti Khodijah menceritakan, bantuan dari Pemkab Lebak diterima keluarganya setelah pemberitaan tentang keluarganya yang tinggal di dalam kandang ayam ramai di media massa cetak dan elektronik. Pemberitaan itu membuat Wakil Bupati Ade Sumardi dan pejabat Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) datang. Orang-orang penting itu mengungkapkan keprihatinannya kepada keluarga Suyitno. Saat itu, para pejabat itu juga menjanjikan akan memberikan bantuan berupa material bangunan kepada Suyitno. Sayangnya, janji tinggal janji.
“Kami hanya terima bantuan dari Baznas Lebak sebesar Rp1 juta, empat sak semen, dan pasir dua pikap. Kalau dari pemerintah enggak ada,” tukas Siti Khodijah.
Bantuan dari Baznas itulah yang digunakan untuk membangun rumah berukuran 5×9 meter tersebut. Tetangga Siti Khodijah-lah yang bergotong-royong memasang batu bata setengah badan dan dinding bilik rumah. Warga Kampung Cinumpi berempati agar keluarga Suyitno cepat pindah dari kandang ayam. “Walaupun (rumah-red) belum jadi, saya dan suami sepakat mengisi rumah ini,” ujar Siti Khodijah.
Dua atau tiga bulan, Suyitno dan keluarga telah menempati rumah itu. Mereka tidak lagi berharap mendapatkan bantuan dari Pemkab Lebak yang dijanjikan Wakil Bupati dan pejabat Disnakertransos. Keluarga miskin ini pasrah dengan nasib yang menimpanya.
Untuk memperbaiki hidup keluarganya, Suyitno telah dua pekan mengadu nasib di Jakarta. Siti Khodijah belum mengetahui, suaminya telah mendapatkan pekerjaan atau belum. Sepengetahuan ibu rumah tangga ini, Suyitno ikut temannya yang sudah bekerja di Jakarta.
Sementara, Siti Khodijah menjadi buruh cuci dan menyeterika pakaian di Desa Kadu Agung Timur, Kecamatan Cibadak. “Saya harus kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” tutur Siti Khodijah. “Saya bersyukur, anak-anak enggak pernah ngeluh lagi. Tidak seperti waktu di kandang ayam, mereka sering mengeluh sakit dan kedinginan kalau malam hari,” kenang Siti Khodijah. (*)










