SERANG – Untuk meningkatkan investasi penanaman modal asing (PMA) di Banten, Gubernur Rano Karno secara khusus bakal berangkat ke Australia pada Minggu-Rabu (8-11/5). Keberangkatan Gubernur bersama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BKPMPT) Banten Babar Suharso dan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Agus M Tauchid. Agendanya tak lain, yakni untuk melakukan agreement kerja sama dengan Nasional Port Coorporation Limeted (NPCL). NPCL adalah perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang usaha operator pelabuhan agrikultural, aquakultur, pertambangan dan energi (khususnya batu bara) di Australia bagian barat.
Kepada wartawan, Babar Suharso menjelaskan, kunjungan ke Australia yang dikemas dalam agenda Indonesia’s New Invesment Policy and Business Opportunities tersebut merupakan tindak lanjut atau kunjungan balasan. Pada April 2016, NPCL pernah datang ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, di Jakarta. “Pertemuan di sana nanti diagendakan di Melbourne, Brisbane, dan Perth. Dalam agenda itu, dirancang pertemuan one on one meeting antara NPCL dan Gubernur (Rano Karno-red), sekaligus penandatanganan preliminary agreement pembangunan Pelabuhan Bojonegara, serta kunjungan ke Pelabuhan Nasional Port di Perth, dan pertemuan dengan pengusaha Australia wilayah barat,” ujar Babar, Rabu (4/5), seperti dilansir Harian Radar Banten.
Babar menjelaskan, kedatangan Pemprov Banten yang dipimpin langsung Gubernur dalam rangka melobi terlaksananya kerja sama pembangunan Pelabuhan Bojonegara, yang rencananya akan dikerjasamakan dengan PT Pelindo II. Nantinya, di area Pelabuhan Bojonegara, Kabupaten Serang, akan dibangun pelabuhan peti kemas dengan sistem apung dengan nilai investasi sebesar USD100 juta. “Pembangunan pelabuhan itu tidak dilelang, tapi dikerjasamakan dengan PT Pelindo. PT Pelindo yang membangun, nanti mereka mendapat bagi hasil jasa operator dan jasa pelabuhan selama 30 tahun,” paparnya.
Selain investasi pembangunan pelabuhan, rencananya juga akan diadakan kerja sama investasi feedloter dan breeding sapi dengan perusahaan Austrax. “Gubernur juga akan bertemu Walikota Corangamite Shire City untuk membahas kerja sama sister cities, dan pertemuan business meeting dengan pengusaha Australia peminat investasi di Banten,” ungkapnya.
Gubernur Rano secara langsung sudah meminta dukungan kepada menteri perhubungan dan menteri BUMN agar projek Bojonegara terus didorong oleh pemerintah pusat. “Pemprov Banten sangat mendukung rencana investasi NPCL di Bojonegara, dan saya sudah meminta pengusaha agar segera memulai investasinya di Banten,” ujar Rano.
Secara khusus, Rano Karno menugaskan Kepala BKPMPT Babar Suharso untuk terjun dan mengawal kesungguhan NPCL yang berminat berinvestasi di Banten, dan aktif dalam berbagai pertemuan koordinasi yang dilakukan Pelindo II atau Kementerian BUMN. “Kami berharap investasi NPCL ini dapat memicu minat investasi dari negara lain termasuk Australia. Sebab, selama ini investasi Australia di Indonesia masih sangat kecil, padahal secara geografis Australia adalah negara tetangga,” kata Rano.
Kepala Distanak Provinsi Banten Agus M Tauchid menambahkan, produksi sapi dari peternak sapi di Provinsi Banten baru mencapai 380 ribu ekor per tahun. Produksi itu dirasa belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Banten yang tergolong cukup tinggi.
“Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat maka butuh impor sapi. Sebab, ada kebutuhan daging sapi yang tidak dapat dipenuhi oleh peternak lokal, misalnya daging sapi untuk di restoran. Artinya, kerja sama pengiriman sapi impor atau bibit sapi ini tidak akan mengancam peternak lokal karena kebutuhannya lebih spesifik dan untuk memenuhi daging sapi di Banten harus berbasis industri. Kalau tidak berbasis industri, akan sulit terpenuhi,” ujarnya. (Aditya R/Radar Banten)










